DetikNews
Selasa 26 Maret 2019, 14:32 WIB

Fatwa Haram PUBG, Peneliti: Game Bukan Penyebab Utama Kekerasan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Fatwa Haram PUBG, Peneliti: Game Bukan Penyebab Utama Kekerasan
Berlin -

Wacana video game sebagai pemicu kekerasan telah menjadi bagian dari debat sosial masyarakat dunia sejak lama. Hilary Clinton di tahun 2005, saat masih menjadi senator, pernah menyatakan bahwa "bermain video game kekerasan untuk remaja sama seperti merokok tembakau untuk kanker paru-paru".

Berbagai serangan bersenjata yang terjadi di Amerika Serikat juga diyakini disebabkan oleh pelaku yang terpapar kekerasan saat bermain video game. Presiden Trump, misalnya, menyalahkan video game atas kejadian penembakan di Marjory Stoneman Douglas High School di Florida, yang menewaskan 17 siswa.

Permainan role playing game, di mana pemain menggunakan senjata dan membunuh untuk bertahan hidup, seperti PlayerUnknown's Battlegrounds atau PUBG, menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir.

Di India, game PUBG sudah dilarang pada awal Maret. Pelarangan ini ditujukan untuk mencegah kekerasan dilakukan oleh anak-anak yang bermain game tersebut. "Karena permainan ini, pendidikan anak-anak dan remaja terpengaruh. Game ini juga mempengaruhi perilaku, tata krama, ucapan dan perkembangan anak-anak," demikian pernyataan dalam surat perintah polisi negara bagian Gujarat, tertanggal 6 Maret.

Indonesia dan Malaysia pun juga berwacana untuk melarang permainan PUBG. Dilansir dari Detik News, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah mempertimbangkan fatwa haram untuk game PUBG. Kemkominfo pun menanggapi pertimbangan tersebut. "MUI lembaga independen. Kalau memang (PUBG) dirasakan merusak, dikaji dulu, dan silahkan diajukan ke Kominfo. Kami siap menindaklanjuti permintaan pemblokirannya," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.

Video game bukan penyebab utama kekerasan

Sarah Mayr, psikolog Jerman dengan fokus Human Factors dan molecular psychology, dalam tulisannya Vom Gamer zum Täter – Erhöhen Videospiele die Gewaltbereitschaft unter Jugendlichen? (Dari Gamer ke Pelaku Kriminal - Apakah video game meningkatkan tindak kekerasan pada anak muda?) mempertanyakan apakah menjadikan game sebagai masalah dan penyebab tindak kekerasan bisa dibenarkan dari sudut pandang ilmiah?

Untuk membuktikan klaim tersebut, maka diperlukan penelitian ilmiah. Ilmuwan AS Whitney DeCamp dan Christopher J. Ferguson telah melakukan riset pada 9000 anak-anak kelas 8 dan 11 yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat di AS untuk menguji faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi kasar.

Para peneliti merekam intensitas mereka bermain video game brutal, kualitas hubungan dengan orang tua, kekerasan dalam keluarga dan informasi demografik seperti gender, tingkat ekonomi keluarga dan etnisitas.

Penelitian DeCamp dan Ferguson menyimpulkan bahwa kekerasan dalam video game bukan merupakan penyebab utama kekerasan remaja dan, bahwa keluarga dan lingkungan sosial adalah faktor yang lebih berpengaruh dalam membuat seseorang berkelakuan kasar dan brutal.

Mengutip penelitian Adachi dan Willoughby yang berjudul "The Link Between Playing Video Games and Positive Youth Outcomes: Child Development Perspectives", Mayr menuliskan, beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa video game juga memiliki sisi baik: ada game yang melatih pemecahan masalah dan ada pula yang menggalakkan kerja sama di antara remaja dari berbagai kelompok sosial.

Setelah satu dekade lebih para ilmuwan menyibukkan diri pada riset efek negatif video game, Mayr berpendapat bahwa mungkin kini saatnya, mereka memfokuskan riset pada apakah dan bagaimana video game dapat berkontribusi positif pada perkembangan anak-anak.

na/ts (dari berbagai sumber)

Video: YouTuber Afif Yulistian Tak Setuju PUBG Dibatasi di Indonesia

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed