DetikNews
Rabu 06 Februari 2019, 12:38 WIB

ISIS Kalah, Kurdi Suriah Ingin Jerman Terima Kembali Jihadis Jerman

Deutsche Welle (DW) - detikNews
ISIS Kalah, Kurdi Suriah Ingin Jerman Terima Kembali Jihadis Jerman Foto: Getty Images/AFP
Damaskus - Jihadis asal Jerman, bersama istri dan anak-anak mereka, berada di tahanan Kurdi di Suriah. Berakhirnya kekhalifahan Islamic State dan rencana AS tarik diri dari Suriah jadi desakan segera ambil tindakan atas tahanan.

Menurut pihak berwenang Kurdi di Suriah, Jerman mengelak dari tanggungjawabnya untuk merepatriasi jihadis asal Jerman, juga istri dan anak-anak mereka yang di tahan di timur laut Suriah.

Syrian Democratic Forces (SDF) yang didukung AS telah menangkap sekitar 800 jihadis, 600 perempuan dan lebih dari 1.200 anak dari belasan negara, ketika melaksanakan serangan terhadap sisa-sisa organisasi teroris yang menyebut diri Islamic State (IS) atau ISIS.

"Di antara mereka ada puluhan jihadis asal Jerman, juga perempuan dan anak-anak," demikian dikatakan badan yang bertindak sebagai departemen luar negeri di kawasan otonomi Kurdi di Suriah, pada Deutsche Welle. Ditambahkan, jumlah jihadis asing yang ditahan semakin banyak.

Pemerintah negara-negara Eropa sangat berhati-hati dalam mengambil langkah repatriasi jihadis yang berjuang untuk "kalifat" IS di Suriah dan Irak, karena khawatir dampak politis menerima kembali ekstremis, mengingat Prancis, Jerman dan negara lain Eropa sudah jadi sasaran serangan teroris.

Namun demikian, rencana AS untuk menarik militernya menyulut kekhawatiran atas keamanan di kawasan Suriah yang dikuasai kaum Kurdi. Mereka menghadapi ancaman serangan militer Turki, dan ini mungkin menyebabkan mereka mulai mempertimbangkan kesepakatan dengan pemerintah Suriah.

Pekan lalu, Prancis menyatakan sedang berdiskusi dengan pemerintah otonom Kurdi di Suriah untuk merepatriasi jihadis IS asal Prancis. "Kami mempertimbangkan semua opsi untuk mencegah orang-orang yang berpotensi bahaya untuk melarikan diri dan menyebar," demikian dikatakan Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian.

Situasi mendesak

Pemerintah Kurdi di Suriah mengatakan, mereka tidak mampu menangani beban menahan jihadis asing dan rehabilitasi perempuan yang tidak berperang serta anak-anak. Pihak berwenang Kurdi mengungkap, beberapa jihadis asing sangat berbahaya. Mengingat situasi di kawasan tidak stabil, potensi tahanan melarikan diri sangat besar.

Mengingat situasi keamanan yang serius di Suriah, pimpinan badan intelijen Amerika, CIA, Gina Haspel menyatakan komite dari Senat, badan yang dipimpinnya bekerjasama dengan negara-negara sekutu untuk mengidentifikasi tahanan SDF dan mengembalikan mereka ke negara asal.

Beberapa badan intelijen barat memperkirakan, sebanyak 30.000 jihadis asing pindah ke Suriah dan Irak untuk berjuang bersama IS dan kelompok-kelompok ekstremis lain. Ribuan dari mereka sudah tewas di medan perang.

Anak-anak di "kawasan jihad"

Kementerian Dalam Negeri Jerman memperkirakan sekitar 1.000 orang meninggalkan Jerman untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris di Suriah dan Irak sejak 2013.

Sepertiganya sudah kembali ke Jerman. Sebagian sudah dihadapkan ke pengadilan atau ditempatkan dalam program rehabilitasi. Sekitar 270 perempuan Jerman dan anak-anak masih berada di Suriah atau Irak. Sekitar 75% anak diperkirakan di bawah usia tiga tahun dan kemungkinan lahir di "kawasan jihad".

Kementerian Dalam Negeri Jerman menyatakan, puluhan pria, perempuan dan anak-anak asal Jerman berada di tahanan, tetapi pemerintah Jerman tidak punya informasi spesifik. Bantuan konsuler juga tidak bisa diberikan, karena masalah keamanan dan tidak adanya hubungan diplomatik dengan Suriah.

Palang Merah Internasional yang mengirim delegasi ke tempat penahanan di Suriah mengatakan, jika ada keluarga yang meminta, Palang Merah akan memberitahu badan konsuler di negara asal mereka.

Ed.: ml/ap




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed