DetikNews
Rabu 30 Januari 2019, 17:18 WIB

Parlemen Inggris Tolak 'No Deal Brexit', UE Tolak Negosiasi Ulang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
London - Perdana Menteri Inggris Theresa May memenangkan mandat parlemen untuk berunding lagi dengan Uni Eropa di Brussels. Bersamaan dengan itu, parlemen hari Selasa (29/1) menolak Inggris keluar tanpa perjanjian.

Keputusan parlemen Inggris diambil dalam situasi dramatis setelah perdebatan sengit dengan Perdana Menteri Theresa May. Setelah beberapa usulan ditolak, akhirnya parlemen menyetujui dua opsi dengan mayoritas tipis. Pertama, parlemen Inggris menyatakan tidak setuju dengan Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa perjanjian, modus yang dikenal sebagai "No Deal Brexit". Kedua, parlemen memberi mandat kepada Theresa May untuk melakukan negosiasi ulang di Brussels.

Di hadapan sidang parlemen, Theresa May berjanji akan berusaha keras merundingkan lagi perjanjian Brexit dengan Uni Eropa. Yang jadi sengketa selama ini adalah butir yang disebut "backstop", yaitu tentang status perbatasan antara Irlandia Utara, bagian dari Inggris, dan Republik Irlandia, yang anggota Uni Eropa.

Theresa May mengatakan dia akan berbicara dengan Uni Eropa untuk mencapai kesepakatan baru sampai 13 Februari. Namun juru bicara Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk dengan cepat menandaskan, kesepakatan Brexit yang dulu dicapai dengan Theresa May "tidak terbuka untuk negosiasi ulang".

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengatakan, perjanjian yang ada sekarang adalah "perjanjian terbaik yang mungkin". Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney menerangkan, dia berharap opsi backstop "tidak akan pernah digunakan" atau digantikan dengan cepat oleh perjanjian perdagangan baru. Tapi kesepakatan yang ada saat ini tidak akan diubah.

Menolak no-deal-Brexit

"Saya setuju bahwa kita tidak boleh pergi tanpa kesepakatan. Namun, menolak no deal Brexit saja tidak cukup untuk menghentikannya," kata Theresa May kepada anggota parlemen. Karena jika Inggris tidak berhasil mencapai kesepakatan baru dengan Uni Eropa, maka keanggotaan negara itu di Uni Eropa otomatis akan berakhir pada 29 Maret 2019 tanpa kesepakatan sama sekali.

Setelah parlemen menyetujui dua keputusan itu, pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn mengatakan, dia siap bertemu Theresa May untuk membahas "solusi Brexit yang masuk akal yang bermanfaat untuk seluruh negeri".

"Perdana Menteri sekarang harus menghadapi kenyataan, bahwa 'no deal' bukanlah suatu pilihan," katanya.

Theresa May sekarang menghadapi tantangan berat untuk meyakinkan Brussels agar membuka kembali negosiasi tentang Perjanjian Brexit, yang sebelumnya sudah dirundingkan selama 18 bulan dan disetujui pemerintah Inggris. Namun dia gagal mendapat mayoritas di parlemen Inggris, yang dengan mayoritas besar menolak Perjanjian Brexit itu, sehingga situasi perundingan Brexit menjadi tidak pasti.

"Sangat sulit" membujuk Uni Eropa

Theresa May mengatakan, dia akan "berusaha keras untuk mendapatkan perubahan yang mengikat secara hukum terhadap perjanjian penarikan". Namun mengakui "sangat sulit" membujuk Uni Eropa melakukan negosiasi ulang.

Para pengamat politik menilai, Theresa May berhasil memenangkan agendanya dalam pemungutan suara di parlemen hari Selasa kemarin. Namun harian Inggris The Guardian menyebut kemenangan May sebagai "sebuah kesuksesan besar yang dibangun di atas fantasi".

Profesor Anand Menon dari King's College London mengatakan: "Satu-satunya strategi yang bisa saya lihat di balik semua ini adalah: Perdana Menteri menggunakan ini untuk akhirnya membuktikan kepada semua orang.. bahwa backstop tidak bisa dinegosiasi ulang."

Pada akhirnya, kata Anand Menon, Theresa May akan kembali ke parlemen Inggris dan mengatakan, tidak ada perubahan dalam Perjanjian Brexit. Itu artinya, Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa perjanjian, kecuali parlemen Inggris berubah pikiran dan menyetujui Perjanjian Brexit yang ada saat ini.

Perdana Menteri Theresa May mengatakan, selama dua minggu ke depan dia akan mencoba berunding lagi dengan Uni Eropa. Lalu pada 14 Februari, parlemen Inggris harus bersidang lagi untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Uni Eropa menyatakan akan meninjau kemungkinan mengundurkan batas waktu Brexit sampai tiga bulan, jika memang ada alasan kuat untuk itu.

hp/rzn (afp, rtr, ap)




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed