DetikNews
Sabtu 26 Januari 2019, 00:56 WIB

Satwa Invasif Ikut Menyebar Lewat Jalur Sutra Abad ke-21 Milik China

DW (Soft News) - detikNews
Satwa Invasif Ikut Menyebar Lewat Jalur Sutra Abad ke-21 Milik China Satwa invasif ikut menyebar lewat Jalur Sutra abad ke-21 milik China (DW/Soft News)
Beijing - Satwa invasif diyakini menyebar cepat di sepanjang Jalur Sutra modern yang dibangun China di 123 negara di antara Asia, Eropa dan Afrika. Ilmuwan mendeteksi sejumlah lokasi yang terancam, termasuk Indonesia

Proyek raksasa yang diluncurkan lima tahun itu diniatkan untuk menghubungkan separuh Bumi dalam satu jalur perdagangan yang terkoneksi satu sama lain.

Yiming Li, salah seorang peneliti di Chinese Academy of Science, sempat mempertanyakan apakah proyek bernama resmi Belt and Road Initiative ini akan berdampak pada kehidupan satwa amfibi, reptilia, unggas, dan mamalia. "Mungkin fokus otoritas China saat itu lebih kepada hama dan penyakit di pertanian. Dan satwa invasif bukan isu yang populer," ujarnya kepada AFP.


Li dan sejumlah ilmuwan lain di China dan Inggris mengembangkan sebuah model yang mengaitkan berbagai kawasan dengan Jalur Sutra modern. Pemodelan tersebut berbasis pada nilai perdagangan, iklim, dan habitat lokal. Melalui cara itu, ilmuwan ingin memprediksi ke mana 816 jenis satwa vertebrata kemungkinan besar akan tumbuh dan berkembang pesat.

Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Current Biology ini mengidentifikasikan 14 titik panas, tempat spesies invasif berpeluang besar berkembang biak dan menggusur satwa lokal. Dalam peta yang dibuat ilmuwan, titik panas itu tersebar di Vietnam, Filipina, selatan Chile, dan Indonesia.

Aljazair, Nigeria, dan Kamerun juga masuk dalam daftar kawasan yang terancam lantaran kondisi iklim yang menguntungkan.

"Apa yang kami sangat khawatirkan adalah enam koridor ekonomi terbesar yang membentang antara Asia dan Eropa," kata Li. Lantaran volume lalu lintas yang tinggi, "Ada kemungkinan besar terjadinya invasi dan kondisi lokal menguntungkan pertumbuhan spesies asing. Kami menyebut tempat tempat ini sebagai titik panas satwa invasif," ujarnya.

"Invasi spesies asing terus terjadi di berbagai tempat," kata salah seorang penulis studi, Tim Blackburn, profesor Biologi Invasi di University College London. Eropa, misalnya, ikut mengekspor tikus ke Amerika Serikat. Pada awal abad ke-20, satu jenis jamur dari Asia memusnahkan hutan kastanya Amerika Utara.

"Kali ini akan berbeda, karena dimensinya dan volume perdagangan yang ikut terlibat," kata Blackburn.



Seperti serangga dan jamur, beberapa satwa, seperti katak, ular, dan burung, bisa ikut terbawa truk dan kapal kontainer. Kodok banteng asal Amerika Serikat, misalnya, saat ini mulai menggusur satwa amfibi di China dan tergolong, "Spesies amfibi paling agresif di seluruh dunia," kata Li.

Di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengajukan paket kebijakan guna mengelola risiko satwa invasif pada 2015. Kebijakan tersebut tidak hanya menggawangi langkah pemerintah, tetapi juga mendorong pengelolaan informasi, penelitian, edukasi dan pembangunan kapasitas di tingkat lokal.

"Spesies invasif sangat sulit untuk diperangi. Tapi kita bisa mencegahnya. Jika Anda berhasil mencegah invasi satwa, Anda tidak hanya berhemat dana, tetapi juga satwa."


(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed