DetikNews
Kamis 24 Januari 2019, 17:53 WIB

Pertarungan Kekuasaan di Venezuela, Militer Dukung Maduro

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Pertarungan Kekuasaan di Venezuela, Militer Dukung Maduro
Caracas - Ketua parlemen Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai pemimpin baru Venezuela. AS dan banyak negara lain mendukungnya. Tapi militer menyatakan tetap mendukung Presiden Nicolas Maduro.

Ketua parlemen sekaligus pimpinan oposisi Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden baru Venezuela setelah ribuan warga sejak berhari-hari menggelar aksi protes terhadap kekuasaan Presiden Nicolas Maduro. 13 orang tewas dalam bentrokan antara massa dengan pasukan anti huru-hara.

Aksi protes meluas setelah Mahkamah Agung Venezuela - yang didominasi oleh loyalis Maduro - memerintahkan penyelidikan pidana terhadap Majelis Nasional hasil pemilu, dengan tuduhan mereka berusaha menggulingkan presiden.

"Saya bersumpah untuk secara resmi mengambil alih wewenang eksekutif nasional sebagai penjabat presiden Venezuela, demi mengakhiri perebutan kekuasaan, (membentuk) pemerintahan transisi dan mengadakan pemilihan bebas," kata Guaido yang berusia 35 tahun kepada sekelompok pendukung yang bersorak-sorai. Ribuan orang Venezuela di luar negeri - dari Madrid sampai ke Santiago di Chili - menyambut pernyataan Guaido.

Hanya dalam beberapa menit, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menyatakan Maduro pimpinan "tidak sah" dan menyebut Majelis Nasional "satu-satunya lembaga yang sah yang dipilih oleh rakyat Venezuela."

Negara-negara tetangga seperti Brasil, Argentina, Kolombia juga menyatakan akan mendukung Guaido. Sementara Meksiko dan Kuba tetap mendukung pemerintahan Maduro.

Di Brussels, Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk mengatakan bahwa "tidak seperti Maduro" Majelis Nasional pimpinan Guaido memiliki "mandat demokratis dari warga negara Venezuela."

Kepala Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), Luis Almagro, mengatakan kepada Guaido: "Anda memiliki semua pengakuan kami untuk meluncurkan kembalinya demokrasi ke negara ini."

Maduro putuskan hubungan diplomasi dengan AS

Nicolas Maduro berang dengan reaksi AS dan menyatakan pemutusan hubungan diplomatik dengan pemerintah "imperialis". Dia memberikan waktu 72 jam bagi para diplomat AS untuk meninggalkan negara itu.

"Keluar! Tinggalkan Venezuela, di sini ada martabat," teriak Maduro di hadapan ribuan pendukungnya dari balkon istana presiden di Caracas. Departemen Luar Negeri AS mengatakan tidak lagi mengakui Maduro sebagai presiden, sehingga perintahnya tidak ada artinya.

Juan Guaido bereaksi dengan surat terbuka yang mendesak perwakilan asing untuk mempertahankan kehadiran diplomatik mereka di negara itu.

Dukungan militer untuk Maduro

Nicolas Maduro juga mendapat dukungan dari angkatan bersenjata. "Tentara negara tidak menerima presiden yang dipaksakan oleh kepentingan yang tidak jelas, atau seseorang yang memproklamirkan diri di luar hukum," kata Menteri Pertahanan Vladimir Padrino lewat Twitter. Dia menyatakan bahwa angkatan bersenjata "akan membela konstitusi dan merupakan penjamin kedaulatan nasional.".

Sejak terpilih sebagai Ketua Majelis Nasional Desember lalu, Juan Guaido telah berhasil menggalang oposisi yang tadinya terpecah. Dia menyatakan tidak khawatir bisa ditangkap aparat keamanan.

Nicolas Maduro memimpin Venezuela sejak 2013 setelah tokoh karismatik Hugo Chvez menderita sakit dan kemudian meninggal. Negara itu terpuruk dalam krisis ekonomi yang semakin dalam dan kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan.

Menurut PBB, sekitar 2,3 juta orang telah meninggalkan negara itu sejak 2015. Dana Moneter Internasional IMF mengatakan inflasi akan mencapai 10 juta persen tahun ini.

hp/rzn (afp, rtr, ap)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed