DetikNews
Rabu 09 Januari 2019, 16:33 WIB

Australia Siap Beri Suaka ke Perempuan Saudi yang Kabur ke Thailand

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Australia Siap Beri Suaka ke Perempuan Saudi yang Kabur ke Thailand
Canberra - Seorang perempuan Arab Saudi yang lari dari keluarganya ke Thailand telah diberi status pengungsi oleh PBB, kata pemerintah Australia. Australia juga menyatakan siap memberi suaka.

Pemerintah Australia hari Rabu (9/1) menyatakan, Rahaf Mohammed al-Qunun yang lari dari keluarganya ke Bangkok dan bertahan di bandara setelah ditolak masuk ke Thailand, akan mendapat status pengungsi dari PBB.

Sebelumnya, otoritas Thailand menerangkan, Rahaf Mohammed al-Qunun saat ini sudah diijinkan meninggalkan kawasan bandara dan berada di Thailand "di bawah perlindungan PBB". Dia tiba di Bangkok Sabtu malam (5/1) setelah lari dari keluarganya saat berlibur di Kuwait.

Rahaf mengatakan keluarganya mengancam akan membunuhnya dan mengaku selama ini mengalami intimidasi dan penindasan dari pihak keluarga, karena menolak kawin paksa. Dia bermaksud meminta suaka di Australia dan terbang ke Bangkok untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum bertolak ke Australia. Namun di bandara Bangkok, pihak imigrasi Thailand menolak memberi ijin masuk dengan alasan dia tidak punya tiket kembali dan tidak ada pemesanan hotel yang sudah dibayar.

Rahaf Mohammed al-Qunun lalu bertahan sebuah hotel transit di bandara Bangkok dan membarikade dirinya dalam kamar hotel lalu menyebarkan cerita tentang situasinya lewat Twitter. Thailand tadinya bersikeras akan mendeportasi dia ke Arab Saudi. Namun rencana itu menyulut kritik luas di internet. Akhirnya otoritas Thailand hari Senin (7/1) membolehkan dia masuk ke negara itu setelah intervensi lembaga pengungsi PBB, UNHCR.

Australia siap berikan suaka

Pejabat pemerintahan Australia kini menyatakan akan memberi visa kemanusiaan kepada Rahaf jika PBB mengakui statusnya sebagai pengungsi.

"Jika dia dinyatakan sebagai pengungsi, maka kami akan memberikan pertimbangan yang sangat, sangat, sangat serius untuk memberi visa kemanusiaan," kata Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt hari Rabu (9/1)kepada stasiun televisi ABC.

Greg Hunt menjelaskan, dia sudah berbicara dengan Menteri Imigrasi David Coleman tentang kasus Rahaf al-Qunun Selasa malam. Bahkan Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton, yang selama ini dikenal punya kebijakan keras terhadap pengungsi, menyatakan simpatinya dalam kasus Rahaf Mohammed al-Qunun.

"Tidak ada perlakuan istimewa dalam kasus ini", kata Peter Dutton, namun menambahkan: "Tidak seorangpun yang ingin melihat seorang perempuan muda tertekan seperti ini, dan sekarang dia kelihatannya sudah dalam situasi aman di Thailand."

Jadi sorotan internasional lewat Twitter

Pesan pertama dari Rahaf Mohammed al-Qunun, dalam bahasa Arab disebar pukul 3:20 waktu Thailand dan diposting lewat Twitter dari area transit bandara Suvarnabhumi Bangkok. Dia mengatakan: "Saya adalah gadis yang melarikan diri dari Kuwait ke Thailand. Hidup saya dalam bahaya nyata jika saya dipaksa untuk kembali ke Arab Saudi."

Hanya dalam beberapa jam, berbagai kampanye bermunculan di Twitter dengan tagar #SaveRahaf. Jaringan aktivis kemudian menyebarkan berita itu di media sosial dan mendesak pemerintah Thailand untuk membatalkan rencana deportasi Rahaf.

Cuplikan video yang diposting di Twitter oleh seorang aktivis hak asasi manusia Arab Saudi tampak menunjukkan seorang pejabat Saudi mengeluh bahwa pemerintah Thailand seharusnya menyita ponsel pintar Rahaf. "Ketika dia tiba, dia membuka akun baru (Twitter) dan pengikutnya melonjak menjadi 45.000 dalam satu hari," kata pejabat itu dalam bahasa Arab. "Akan lebih baik jika otoritas Thailand menyita ponselnya daripada paspornya."

Arab Saudi memiliki beberapa aturan kaum perempuan paling berat sedunia, termasuk sistem perwalian yang memungkinkan anggota keluarga pria membuat keputusan atas nama kerabat perempuan mereka. Catatan hak asasi manusia Arab Saudi menjadi sorotan internasional sejak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul tahun lalu.

Kepala polisi imigrasi Thailand, Mayjen Surachate Hakparn mengatakan, ayah dan saudara lelaki Rahaf Mohammed al-Qunun tiba di Bangkok pada hari Selasa (8/1), namun Rahaf menolak untuk bertemu dengan mereka. Surachate Hakparn menambahkan dia berharap kasus ini akan selesai dalam beberapa hari ke depan.

hp/as (afp, rtr, ap)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed