DetikNews
Rabu 14 November 2018, 12:50 WIB

Apakah Kepergian Angela Merkel Akan Berpengaruh pada Uni Eropa?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Apakah Kepergian Angela Merkel Akan Berpengaruh pada Uni Eropa?
Berlin - Sebagian pengamat politik di Uni Eropa khawatir, kepergian Angela Merkel dari panggung politik bisa membuat blok itu jadi lebih lemah lagi. Selama ini, Kanselir Jerman itu dianggap simbol kontinuitas.

Sebagian pengamat dan kalangan pejabat Uni Eropa ingin ada kepastian tentang stabilitas pemerintahan Jerman, setelah Kanselir Angela Merkel mengumumkan akan mundur dari politik pada akhir masa legislasi ini. Namun para politisi di Brussels menyatakan, kepergian Merkel tidak akan menyulitkan Uni Eropa. Semuanya akan berjalan seperti biasa.

Selama ini, Angela Merkel memang dilihat sebagai salah satu tonggak kontinuitas di Uni Eropa. Selain karena Jerman memang negara anggota terbesar, cara berpolitik Merkel yang jauh dari sensasi memang jarang sekali membuat kejutan.

Lalu, siapa yang akan menggantikan Merkel memimpin Jerman dua atau tiga tahun lagi? Sebenarnya tidak terlalu penting, kata kalangan politik di Brussels. Mereka yakin, Jerman akan memiliki pemerintahan yang stabil, yang mampu mengambil tindakan.

Kebijakan Pengungsi

Sebagian besar negara anggota UE akan menghubungkan Angela Merkel dengan keputusannya mengizinkan pengungsi asal Suriah dan Irak masuk ke Jerman tahun 2015. Sebagian besar negara ketika itu menolak membiarkan pengungsi masuk. Merkel mengatakan, dia melakukan itu berdasarkan insting kemanusiaan.

Sampai sekarang, kebijakan pengungsi Merkel di Jerman sendiri sering dikritik, juga oleh kalangan partainya sendiri. Sentimen anti pengungsi juga kemudian meluas dan membuka jalan bagi kemunculan partai ultra kanan AfD, yang sekarang terwakili di semua parlemen negara bagian Jerman.

Angela Merkel berusaha mempertahankan kebijakan pengungsinya dan berunding dengan Turki agar menampung sebagian besar pengungsi Suriah yang datang lewat Turki. Untuk itu Turki menerima curahan dana miliaran Euro.

Rencana reformasi Uni Eropa

Perancis dan Jerman sejak lama menggagas solusi untuk mengamankan euro, agar lebih siap menghadapi krisis. Namun Presiden Perancis kini mungkin harus berjuang sendiri. Pada KTT Uni Eropa berikutnya bulan Desember mendatang, sebagian rencana itu mungkin sudah mengambil bentuk. Namun gagasan itu perlu dukungan penuh, juga dari kalangan konservatif Jerman.

Saat ini, Italia semakin menjadi risiko bagi sektor keuangan Uni Eropa. Pierre Moscovici, Komisaris Eropa untuk Urusan Ekonomi dan Keuangan, prihatin bahwa perselisihan Uni Eropa dan Italia tentang anggaran bisa meruncing, jika Jerman tidak berada dalam posisi kuat dan tampil untuk melakukan mediasi. Bulan Desember, kanselir Jerman Angela Merkel akan meletakkan jabatan sebagai Ketua Partai CDU.

Populisme merebak di Uni Eropa

Italia, Hungaria dan Polandia kini dikuasai politisi populis, yang ingin menyingkirkan pengaruh Uni Eropa dalam politik dalam negerinya. Bahkan Polandia dan Hungaria secara terang-terangan menyatakan akan mengabaikan aturan Uni eropa yang bertentangan dengan kepentingan nasionalnya. Selama ini, Jerman selalu tampil sebagai mediator untuk mempertahankan Uni Eropa dari serangan-serangan kubu populis. Presiden Perancis Emmanuel Macron berulangkali menegaskan pentingnya multilateralisme dan bahayanya nasionalisme. Tapi Macron perlu dukungan penuh dari Jerman, untuk mewujudkan gagasan-gagasannya tentang pembaruan Eropa.

Selama bertahun-tahun, Kanselir Jerman Angela Merkel dilihat sebagai jaminan stabilitas di Uni Eropa. Apa dampak kepergiannya dari panggung politik, dan bagaimana politik CDU di bawah pimpinan yang baru, masih belum jelas.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed