Eropa Lakukan Eksperimen Uji Ketahanan Bangunan terhadap Gempa

Eropa Lakukan Eksperimen Uji Ketahanan Bangunan terhadap Gempa

DW (Soft News) - detikNews
Senin, 20 Agu 2018 17:04 WIB
Eropa Lakukan Eksperimen Uji Ketahanan Bangunan terhadap Gempa
Foto: Getty Images/AFP
Berlin - Para periset Eropa lakukan eksperimen untuk melihat reaksi bangunan tua pada getaran seismik. Pasalnya banyak bangunan dari dekade lalu, tidak dikonstruksi untuk menghadapi gempa bumi.

Gempa bumi tidak bisa diramal atau dicegah. Tapi dengan teknologi baru, banyak yang bisa dilakukan untuk meyakinkan bahwa infrastruktur urban siap jika bencana melanda. Tujuannya, mencegah Runtuhnya Jembatan, bangunan atau infrastruktur lain yang jadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa.

Laboratorium pusat riset bersama Komisi Eropa membuat sebuah simulasi gempa bumi. Terutama diuji kekuatan dua tiang penyangga bangunan jembatan tua. Ini desain tipikal yang digunakan dalam membangun jembatan 50 tahun lalu. Saat itu perlindungan getaran Seismik Gempa yang memadai, belum jadi tuntutan konstruksi.

Martin Poljanek, peneliti teknik sipil yang melakukan eksperimennya menjelaskan: "Dua aktuator ini akan membuat simulasi, apa yang terjadi pada puncak tiang pancang saat gerakan gempa bumi di tanah. Alat akan menggerakkan tiang ke dua arah, ke depan dan ke belakang."

Jaringan sensor dan kamera stereo resolusi tinggi merekam deformasi pada tiang saat ujicoba. Data tersebut akan menunjang metode baru dan peralatan untuk evaluasi bahaya seismik untuk jembatan seluruh Eropa.

Jadi referensi untuk Eropa

"Projek ini jadi referensi dan contoh bagi aksi di seluruh Eropa, untuk memperkokoh struktur jembatan dan viaduk dengan tujuan meningkatkan ketahanan gempa bumi", papar Artur Pinto Vieira, kepala unit asessment struktural di Laboratorium Eropa-JRC. Untuk tujuan itu dilakukan rangkaian simulasi gempa bumi yang dimonitor peralatan paling modern.

Pakar teknis sipil Martin Poljanek menjelaskan lebih jauh: "Gempa Bumi biasanya berlangsung 15 sampai 20 detik. Di laboratorium, kami mengetes tiga sampai lima jam. Tapi dengan begitu kami memiliki kemungkinan untuk mengikuti secara riil, bagaimana perkembangan kerusakan dalam siklus keseluruhan gempa bumi."

Dengan jelas terlihat, satu tiang yang diisolasi dari tanah menggunakan bantalan kelereng baja mengalami kerusakan lebih ringan. Apa yang terjadi pada jembatan, dibuat model digitalnya yang diberi nama simulasi siber fisika.

Pimpinan eksperimen Pierre Pegon merinci detil ujicoba: "Kami membuat model komputer jembatan termasuk semua tiang penyangga, serta dua tiang yang kami ujicoba. Data yang kami peroleh, dari ujicoba bisa kami gunakan mengkalibrasi model untuk seluruh tiang jembatan."

Apakah itu akan digunakan sebagai alasan untuk melengkapi jembatan tua dengan isolasi seismik? Atau mereparasi kerusakan akibat gempa bumi ongkosnya lebih murah? Model Virtual itu akan membantu membuat solusi terbaik dalam masing-masing kasus individual.

(DW Inovator)

(ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads