DetikNews
Rabu 09 Mei 2018, 18:48 WIB

Tanpa Trump, Eropa Tetap Lanjutkan Kesepakatan Nuklir Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Tanpa Trump, Eropa Tetap Lanjutkan Kesepakatan Nuklir Iran
Berlin - Jerman, Perancis, Inggris dan Uni Eropa menyerukan kepada Iran untuk tetap berkomitmen, walau Presiden Donald Trump mengumumkan keputusan AS untuk keluar. Jerman sejak awal adalah pendukung utama kesepakatan tersebut.

Hampir tidak ada masalah dalam politik Jerman di mana semua politisi memiliki persetujuan bersama selain isu kesepakatan nuklir Iran. Dari partai populis ekstrem kanan Alternative fr Deutschland (AfD) hingga ke Partai Kiri, tidak ada seorang pun di negara ini yang memiliki skeptisisme yang sama dengan Presiden AS tentang kesepakatan yang disetujui tahun 2015 itu - setidaknya tidak sampai membatalkannya

Jerman dan Iran pada dasarnya memiliki hubungan yang dekat, dan Jerman sering berusaha untuk menengahi konflik yang terjadi antara Teheran, negara tetangga Iran dan seluruh dunia. Bukan kebetulan, ketika menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Jerman, Presiden Jerman saat ini Frank-Walter Steinmeier menjadi salah satu arsitek utama dari perjanjian 2015 di mana Iran berjanji untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sebagai imbalan untuk pelonggaran sanksi oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman.

Juga tidak mengherankan bahwa di sela pertemuan dengan rekan Prancisnya pada Senin (07/05), Menteri Luar Negeri Jerman saat ini Heiko Maas berjanji bahwa Eropa akan terus menghormati perjanjian itu terlepas apakah Presiden AS Donald Trump menarik Washington keluar dari kesepakatan - sesuatu yang pada akhirnya ia lakukan. Berlin juga menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan dalam beberapa bulan terakhir yang ditujukan untuk menengahi kompromi dengan AS, yang sayangnya tidak berhasil.

Pemerintahan Trump mencurigai Iran mempertahankan program rahasia pengembangan senjata nuklir dan bersikeras bahwa para inspektur diterima di fasilitas militer Iran - sesuatu yang dibantah oleh Teheran. Orang Amerika tidak termasuk dalam tim inspeksi karena AS dan Iran tidak memiliki hubungan diplomatik.

Langkah yang akan memojokkan Iran

Beberapa jam sebelum Trump mengumumkan keputusannya pada hari Selasa (08/05), perwakilan partai koalisi yang memerintah Jerman menegaskan kembali posisi yang ditetapkan oleh Maas.

Pemimpin parlemen dari partai konservativ CDU, Volker Kauder, memperingatkan bahwa penghapusan kesepakatan bisa menciptakan isolasi berbahaya untuk Iran.

"Itu hanya akan memperburuk situasi di Timur Tengah," kata Kauder kepada wartawan. "Iran seharusnya tidak dipojokkan."

"Saya terus berpikir bahwa itu adalah hal yang tepat untuk memiliki perjanjian ini," kata koleganya, Alexander Dobrindt dari Partai CSU, basis CDU di negara bagian Bayern.

"Situasinya lebih sulit dari sebelumnya," kata Ketua Demokrat Sosial dan Pemimpin Parlemen Andrea Nahles. "Ada banyak "titik api" di mana-mana."

Tidak seorang pun di Jerman percaya bahwa perjanjian itu sempurna, tetapi konsensusnya adalah kesepakatan itu lebih baik daripada tidak sama sekali, seperti yang digarisbawahi oleh politikus Iran-Jerman yang paling menonjol, Omid Nouripour.

Mendorong Jerman ke pelukan Cina dan Rusia

Anggota parlemen dari Partai Hijau Omid Nouripour lahir di Teheran. Dia menekankan pentingnya kesepakatan untuk keamanan domestik Jerman.

"Tidak ada kesepakatan berarti tidak ada inspeksi, dan dengan tidak adanya inspeksi maka Iran punya cara terbaik untuk mendapatkan bom dengan cepat," kata Nouripour kepada Deutsche Welle. "Dan kalau Iran mendapatkan bom, itu berarti akan ada nuklirisasi di wilayah tetangga Eropa."

Nouripour adalah salah satu dari 500 anggota parlemen dariPerancis, Jerman dan Inggris yang menulis surat kepada Trump bulan lalu yang mendesak dia untuk tidak menarik AS dari perjanjian tersebut. Nouripour mengatakan dia dan rekan-rekannya akan beralih ke Kongres AS dan memperingatkan akan adanya perpecahan antara AS dan Eropa.

"Kongres dapat mencegah Amerika meninggalkan kesepakatan," kata Nouripour. "Tetapi jika mereka tidak tinggal dalam kesepakatan, itu tugas kami sebagai orang Eropa dan penandatangan untuk mencoba segala yang kami bisa untuk menjaga kesepakatan, bersama dengan Cina dan Rusia. Ini salah satu efek samping yang buruk dari apa yang dilakukan Trump: Mendorong kita ke pelukan Cina dan Rusia."

Kesepakatan yang melibatkan banyak pihak

Jadi apakah masuk akal bagi seluruh penandatangan, termasuk Jerman, untuk tetap berada dalam kesepakatan setelah AS mundur?

"Pada akhirnya ini adalah perjanjian internasional yang melibatkan bukan hanya AS dan Iran, tetapi Eropa - yang berarti Inggris, Perancis dan Jerman - serta Rusia dan China," kata Markus Kaim, ahli Timur Tengah dari Institut fr Internationale Politik und Sicherheit, kepada DW. "Jadi bagian-bagian lain akan tetap utuh. Para pemain lain telah setuju mematuhi ketentuan perjanjian."

Di sisi lain, jelas bagi semua orang di Jerman bahwa AS menikmati status khusus dalam kesepakatan itu.

"Topik menyeluruh adalah untuk menemukan semacam rekonsiliasi antara AS dan Iran," kata Kaim. "Jika Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian itu, saya pikir rezim Iran tidak akan patuh lagi dengan peraturan yang ada."

na/vlz (dw)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed