DetikNews
Selasa 17 April 2018, 08:53 WIB

Uni Eropa Rancang Strategi Tangani Konflik Suriah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Uni Eropa Rancang Strategi Tangani Konflik Suriah Foto: Getty Images/AFP
Berlin - Soal konflik Suriah, Jerman ingin cari format perundingan lain. Perancis ingin bertahan, namun Amerika ingin pulangkan pasukan secepatnya. Turki ambil posisi netral.

Menteri Ekonomi Jerman Peter Altmaier membela diri atas kurangnya partisipasi Jerman dalam serangan militer di Suriah akhir minggu lalu. Altmaier, mengatakan kepada media Jerman, Bild bahwa "hanya karena kita tidak melakukan serangan udara sendiri, tidak berarti bahwa kita 'berada di luar!". Disebutkannya, "Kami membangun solidaritas dengan Barat, tetapi punya misi berbeda, misalnya dalam melatih pasukan Peshmerga Kurdi."

Kanselir Jerman, Angela Merkel sendiri mengatakan pada hari Sabtu (14/04) bahwa dia mendukung serangan terhadap Suriah yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, dan menyebut serangan tersebut sebagai hal yang "diperlukan dan tepat", untuk menghalangi potensi penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah.

Serangan udara itu diluncurkan AS, Perancis dan Inggris sebagai reaksi terhadap dugaan pemakaian bahan kimia dalam serangan di dekat ibu kota Damaskus pada tanggal 7 April silam. Serangan sekutu Barat itu menargetkan program senjata kimia pemerintah Suriah. Suriah dan Rusia telah berulang kali membantah tuduhan itu.

Baca juga:

AS, Inggris dan Perancis Luncurkan Serangan untuk Lumpuhkan Senjata Kimia Suriah

Uni Eropa ingin hidupkan proses perdamaian

Uni Eropa mengatakan ingin menghidupkan kembali proses perdamaian politik untuk memecahkan konflik Suriah. "Sepertinya sangat jelas bahwa ada kebutuhan untuk memberikan dorongan meluncurkan kembali proses politik yang dipimpin PBB pada saat ini, " demikian dikatakan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini sebelum pertemuan tingkat menteri Uni Eropa pada hari Senin (16/054).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas berbicara pada akhir pekan, Jerman mencari "format lain" untuk digelarnya dialog di tengah kebuntuan soal konflik Suriah di PBB. Dewan Keamanan PBB hanya mampu membuat kemajuan yang terbatas dalam menangani konflik sebagian karena oposisi Rusia, yang merupakan sekutu dari pemerintah Suriah.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menekankan bahwa "konflik ini tidak dapat diselesaikan tanpa Rusia," seraya menambahkan bahwa dia menginginkan sebuah "kontribusi konstruktif" dari negara itu.

Sementara, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa serangan udara itu "sepenuhnya hal yang benar untuk dilakukan." Ditambahkannya, "Sangat penting untuk menekankan ini bukan upaya untuk mengubah mengubah rezim atau menyingkirkan Presiden Bashar al-Assad, tapi dunia mengatakan bahwa kita sudah cukup menggunakan senjata kimia."

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu saat AS bersiap untuk memaksakan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia, sekutu utama al-Assad, sebagai bagian dari responnya terhadap serangan kimia yang dicurigai. Perancis juga mengusulkan resolusi PBB yang komprehensif untuk menyerukan awal baru untuk negosiasi politik.

Di Luksemburg, para menteri diperkirakan akan merilis sebuah pernyataan soal opsi larangan perjalanan baru dan pembekuan aset. Tapi para diplomat meramalkan tidak ada keputusan pada hari Senin, terutama terhadap Rusia. "Kami harus terus mendorong untuk mendapatkan gencatan senjata dan kemanusiaan bantuan melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akhirnya proses perdamaian," kata Menteri Luar Negeri Belanda, Stef Blok.

Perancis ingin bertahan, Amerika ingin angkat kaki

Sementara itu, Presiden Perancis, Emmanuel Macron mengatakan bahwa pihaknya telah meyakinkan Donald Trump agar tetap terlibat di Suriah "untuk jangka panjang" - tetapi beberapa jam kemudian Gedung Putih menanggapi dengan mengatakan ingin pasukan Amerika Serikat di sana "untuk pulang secepat mungkin".

Sehari setelah Perancis bergabung dengan Amerika Serikat dan Inggris dalam meluncurkan serangan tersebut, Macron menegaskan intervensi itu sah dan mendesak kekuatan internasional untuk mendorong solusi diplomatik terhadap perang tujuh tahun yang brutal tersebut. "Kami belum menyatakan perang terhadap rezim Bashar al-Assad," ujar pria nomor satu di Perancis berusia 40 tahun itu dalam wawancara TV.

Tetapi Macron sekali lagi menyatakan intervensi militer pertamanya sebagai presiden diperlukan untuk mengirim sinyal bahwa penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil tidak akan luput dari hukuman.

Serangan Sabtu targetkan tiga fasilitas kimia pemerintah Suriah, dalam menanggapi serangan gas yang diduga mengandung senyawa kimia di kota Douma dan menewaskan puluhan orang. "Kami memiliki legitimasi internasional penuh dalam campur tangan dalam kasus ini," tandas Macron. Dia mengatakan Amerika, Perancis dan Inggris menargetkan "lokasi-lokasi yang sangat tepat dari penggunaan senjata kimia" dalam operasi yang berjalan "sempurna".

Meskipun operasi ini tidak disetujui oleh PBB, Suriah seharusnya menghancurkan persenjataan senjata kimianya di bawah resolusi PBB 2013, tambahnya. "Sepuluh hari yang lalu, Presiden Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki kewajiban untuk melepaskan diri dari Suriah," kata Macron. "Saya jamin, kami telah meyakinkannya bahwa perlu tinggal untuk jangka panjang," katanya lebih lanjut.

Tak lama setelah wawancara ditayangkan, Gedung Putih mengatakan misi AS di Suriah "belum berubah". "Presiden telah jelas bahwa dia ingin pasukan AS untuk pulang secepat mungkin," kata juru bicara Sarah Sanders. Dia menambahkan bahwa Washington "bertekad untuk sepenuhnya menghancurkan kelompok ISIS di negara itu" dan menciptakan kondisi yang akan mencegah kembalinya ISIS. "Selain itu kami mengharapkan sekutu regional dan mitra kami untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar, baik secara militer maupun finansial untuk mengamankan kawasan itu," ditambahkannya.

Meskipun ketegangan melonjak dengan Rusia, Macron menekankan perlunya "berbicara dengan semua orang" dalam mengupayakan penyelesaian Suriah, mengatakan rencananya untuk mengunjungi Moskow pada bulan Mei tetap tidak berubah.

Bagaimana dengan Turki?

Turki tidak berdiri bersama dengan negara mana pun tentang konflik Suriah dan kebijakannya di wilayah ini berbeda dari Iran, Rusia dan Amerika Serikat, demikian kata Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag hari Senin (16/04).

Berbicara kepada wartawan di Qatar, Bozdag juga mengatakan Turki tidak ragu untuk bekerja sama dengan negara yang membela "prinsip yang benar" di Suriah.

ap/vlz (dpa,Reuters,afp,bild,ap)




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed