DetikNews
Kamis 21 Desember 2017, 10:39 WIB

Bethlehem di Bawah Bayang-bayang Sengketa Status Yerusalem

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Bethlehem di Bawah Bayang-bayang Sengketa Status Yerusalem
Yerusalem - Ketegangan soal status Yerusalem yang dipicu kebijakan baru Presiden AS Donald Trump terasa sampai ke Bethlehem, tempat tradisional perayaan Natal yang biasanya ramai dikunjungi turis.

Beberapa penjual makanan dan pernak-pernik liburan serta seorang pengusaha hotel terkemuka di Bethlehem mengatakan, aksi protes di Palestina yang dipicu oleh kebijakan baru Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, berdampak negatif pada bisnis mereka. Bethlehem terletak hanya beberapa kilometer di selatan Yerusalem.

Hotel mewah Bethlehem, Istana Jacir dengan 250 tempat tidur, terpaksa ditutup karena seringnya bentrokan antara pemrotes Palestina dan aparat keamanan Israel. Direktur Umum Marwan Kittani mengatakan, hotel tersebut sebenarnya sudah dipesan penuh untuk sesi Natal, namun sekarang dia belum tahu, kapan hotel bisa dibuka lagi. Para aktivis Palestina telah menyerukan lebih banyak lagi aksi demonstrasi di hari-hari mendatang.

Di Manger Square, di samping Gereja Kelahiran Yesus beberapa pedagang juga menyalahkan Donald Trump sebagai penyebab turunnya bisnis mereka.

Penjual jus delima Mahmoud Salahat mengatakan, sumber utama penghasilannya adalah penduduk setempat, baik warga Palestina maupun warga Israel, sebagian besar tinggal jauh dari Bethlehem. Selama dua minggu terakhir, makin sedikit pelanggan yang datang, karena khawatir mengalami masalah di jalan.

Pejabat Palestina masih lebih optimis

Musim Natal biasanya adalah bisnis besar bagi sektor pariwisata di wilayah Palestina. Tahun 2017 diperkirakan pengunjung akan mencapai 2,7 juta orang, meningkat dari jumlah tahun 2016 2,3 juta orang, kata pejabat Kementerian Pariwisata, Jiries Qumsieh. Meskipun ada pembatalan kunjungan, namun 4.000 kamar hotel di Bethlehem sudah dipesan untuk natal, sekitar 90 persen dari kapasitas total, katanya.

Bagi para politisi, Natal juga menawarkan kesempatan baik untuk menarik simpati internasional bagi tuntutan Palestina untuk membentuk negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Sebagian besar warga Palestina adalah Muslim, tapi Presiden Palestina Mahmoud Abbas - seperti juga pendahulunya, Yasser Arafat – sangat menghargai hubungan erat dengan minoritas Kristen. Mereka secara teratur menghadiri misa natal di Gereja Kelahiran Yesus, yang disiarkan secara langsung lewat televisi.

Aksi politis di Bethlehem

Tahun ini, tayangan di televisi kemungkinan akan menampilkan dua spanduk besar dengan slogan: "Yerusalem akan selalu menjadi ibu kota abadi Palestina."

Para aktivis Palestina juga berencana mengedarkan sebuah petisi kepada pengunjung Natal untuk mendukung klaim Palestina atas Yerusalem timur dan menyebarkan stiker "Kami Cinta Yerusalem, ibu kota Palestina".

Awal pekan ini, puluhan pemrotes berkumpul dekat pohon Natal besar sambil memegang lilin putih dan foto Mike Pence, wakil Presiden AS yang dijadwalkan berkunjung ke Palestina. Para pemrotes lalu menyalakan lilin dan membakar foto Mike Pence.

Beberapa turis tampak bingung dengan aksi politik itu. Mereka lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Bethlehem. Ludmilla Trifl, seroang turis Jerman mengatakan, dia tidak ingin memberi penilaian karena dia tidak cukup tahu tentang konflik aktual ini.

hp/yp (ap)




(ita/ita)
dw
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed