dRooftalk

Warga Berbondong Saksikan Babi yang Diklaim Ngepet, Sosiolog: Gejala Perilaku Kolektif

detikTV, detikTV - detikNews
Kamis, 06 Mei 2021 14:35 WIB
Jakarta -

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Daisy Indira Yasmine menilai mitos babi ngepet yang viral di Depok beberapa waktu lalu termasuk bagian dari rumor. Menurutnya, dalam rumor hal yang penting bukan kebenaran dari suatu informasi, orang bisa percaya lebih kepada jejaring sosialnya seperti bagaimana informasi itu disebarkan siapa kepada siapa. Untuk itu, menurutnya fenomena tersebut lebih menjurus kepada perilaku kolektif.

"Jadi perilaku kolektif itu memang bukan rasionalitas yang bekerja, tapi lebih ke pengaruh emosional psikologis dan jejaring sosialnya yang lebih kuat mempengaruhi daripada apakah seseorang itu mengkaji dulu ini benar informasinya atau tidak. Tapi keseruan bahwa ada seseorang tiba-tiba menyebarkan informasi 'ada babi ngepet mencuri uang dan ada orang yang berubah menjadi babi terbukti,' itu tuh informasi itu cukup untuk membangkitkan gejolak," papar Daisy dalam program d'Rooftalk: 'Gaduh Mitos Babi Ngepet' yang disiarkan detikcom (4/5/2021).

Gejolak itu, Daisy menambahkan, menjadi pemicu mengapa banyak orang bergerak bersama-sama agar bisa membuktikan. Menurut Daisy, mudahnya informasi soal babi ngepet itu disebarkan kemudian termasuk gejala perilaku kolektif yang bebas kelas, bebas strata, dan bisa terjadi dimana-mana.

Lebih lanjut, Daisy menyebut cerita soal mitos dan mistis sangat mudah memicu perilaku kolektif di konteks masyarakat Indonesia.

"Sekarang kan metode-nya tidak hanya mulut ke mulut, tetangga ke tetangga, tapi juga melalui media sosial," pungkas Daisy.

(hnf/hnf)