Noor Huda Ismail, Sang Pengulur Tangan Mantan Teroris

detikTV, detikTV - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 09:09 WIB
Jakarta -

Aksi terorisme yang diikuti penangkapan sejumlah terduga teroris di Indonesia beberapa waktu lalu menjadi sorotan publik. Semua pelaku teror tewas dalam peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dan aksi penembakan di Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri). Peristiwa tersebut menunjukkan masih adanya bahaya paham radikalisme di benak sejumlah orang.

Tetapi, ada juga mantan teroris yang berhasil lepas dari paparan radikalisme, lepas dari jerat jaringan kelompok radikal, dan bisa Kembali ke masyarakat. Salah satunya, Jack Harun yang berasal dari Solo. Mantan timer dan peramu Bom Bali 1 ini, kini memilih untuk meracik soto di warung soto miliknya sendiri.

Kemudian ada juga Yusuf Adirima, mantan narapidana kasus terorisme yang sempat merasakan dinginnya penjara sejak 2003 dan bebas bersyarat pada 2009. Pria yang pernah terlibat kasus bom Semarang itu kini menjadi pemilik suatu cafe.

Ternyata, dibalik perubahan dan kesuksesan mantan narapidana teroris (napiter), ada sebuah yayasan yang berperan besar bagi mantan napiter, yaitu Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP). Yayasan itu didirikan oleh Noor Huda Ismail yang memiliki latar belakang alumnus suatu pesantren di Ngruki, Solo dan mantan jurnalis Washington Post. Noor Huda mendirikan YPP untuk membantu para mantan teroris kembali berintegrasi dengan masyarakat.

Titik balik Noor Huda sendiri saat mendirikan YPP salah satunya adalah karena alasan personal. Saat masih menjadi jurnalis Washington Post dan sedang meliput serta mencari tahu siapa dalang Bom Bali 2002, ia kaget ketika mengetahui salah satu pelakunya adalah teman sekamarnya saat di Pondok Pesantren Ngruki dulu.

Setelah mengetahui hal tersebut, Ia terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu dan mengubah paham radikal di benak sejumlah orang. Ia kemudian memulai kampanye damai melawan aksi terorisme dan radikalisme.

Sampai akhirnya Ia melanjutkan S2 di Inggris dan meneliti konflik antara Kristen versus Katolik di Irlandia Utara yang sudah terjadi selama 700 tahun. Di sana, Noor Huda menemukan suatu organisasi kecil atau LSM yang membantu para teroris yang terlibat untuk memperoleh kesempatan kedua memulai hidup baru.

Ketika Noor Huda Ismail kembali ke Indonesia pada tahun 2006, Ia mengajak salah satu rekan jurnalisnya, Taufik Andrie, yang memiliki latar belakang yang sama dalam menekuni isu-isu terorisme untuk mendirikan LSM yang menangani para mantan teroris. Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) akhirnya berdiri pada tahun 2008.

Peaih gelar Ph.D dari Monash University itu kemudian menjadi direktur sejak didirikannya YPP. Namun, jabatan itu dipegang oleh Taufik Andrie sejak ia kembali ke Singapura pada 2014.

(dtv/hnf)