"Ada uang ada barang, itu gaya lama yang harus ditinggalkan," kata Djan Faridz (58), caleg DPD DKI kepada detikcom, Rabu (6/4/2009).
Menurut Djan Faridz, pangsa pasar sangat ditentukan oleh kualitas produk dan jejaringnya. Untuk mencapai hal tersebut, para pedagang tradisional harus berani mengambil risiko bersaing dalam memperkenalkan produk. Artinya, produk yang baru dipasarkan jangan diharapkan langsung mendapatkan bayaran kontan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asli betawi ini mengatakan, prinsip tersebut telah membudaya dalam dunia perdagangan di negara-negara Afrika, seperti Nigeria. Demikian pula dengan Cina. Negeri tirai bambu itu telah mengubah haluan tradisi cara kunonya sehingga mampu menembus pasar Nigeria.
"Pengusaha Cina langsung datang ke Nigeria membawa barang, tapi uangnya belakangan," ujar Djan.
Menurut Djan Faridz, dirinya telah menerapkan gaya bisnis jemput bola ini di Pasar Tanah Abang sejak lama. Hasilnya, di tengah terpaan krisis finansial global, pasar tradisional di DKI Jakarta itu tetap eksis dan mampu merambah pangsa pasar internasional, termasuk ke benua Afrika.
Djan juga mengungkapkan ketertarikannya dalam dunia politik, khususnya terhadap masalah pembangunan kota Jakarta. Djan mengklaim, dirinya mendapat banyak dukungan agar terjun ke dunia politik melalui lembaga Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sebab sekalipun sebagai pengusaha, dia dinilai mempunyai inspirasi dan gagasan sosial politik yang baik.
"Insya Allah dengan kemampuan sosial politik yang saya miliki dan pengalaman berwirausaha yang saya tekuni, kelak bersama-sama dengan anggota DPD lainnya, saya dapat memberikan inspirasi gagasan dan tindakan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat DKI Jakarta," tandasnya.
(djo/iy)











































