Dulu, Inu dikenal sebagai dosen yang tidak pantang menyerah membongkar kebobrokan di IPDN. Kini, dengan menjadi caleg , ia tidak hanya membongkar IPDN, tapi juga institusi di atasnya, yakni Departemen Dalam Negeri (Depdagri).
"Kalau saya terpilih, saya siap membongkar Depdagri. Di Depdagri, korupsi itu besar sekali, lewat proyek, pembangunan, pembelanjaan. Juga untuk penerimaan mahasiswa IPDN," tegas Inu saat berbincang detikcom, Rabu (25/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Depdagri itu di tengah-tengah, (lembaga) yang lain itu di pinggir-pinggirnya," katanya lantang.
Di dapilnya Sumatera Barat 4, Inu mengaku juga memasang baliho bertuliskan 'Membongkar IPDN, Membongkar Depdagri, Membongkar Senayan, Membongkar Indonesia'.
"Masyarakat tertarik dengan baliho yang dibiayai teman saya itu," kata pria kelahiran Payakumbuh, 14 Juni 1952 ini.
Inu mengaku dipecat dari IPDN dan sebagai Pengawai Negeri Sipil (PNS) tanpa pemberitahuan dan Surat Keputusan (SK) terlebih dahulu.
"Saya diusir dengan kejam. Pensiun juga tidak diberikan. Tidak ada negara sekejam selain di republik ini yang tidak memberikan pensiun kepada orang yang dipecatnya," kata pria yang mengawali kariernya sebagai PNS 30 tahun silam ini.
Apa nanti bapak tidak takut dibilang dendam? "Dendam itu kan bahasa sekuler, tapi di Islam itu penegakkan hukum," ujar Inu.
(lrn/iy)











































