Caleg DPR RI dari PPP Endin AJ Soefihara juga harus mengikuti tren yang dilakukan caleg-caleg tersebut, yaitu memasang gambar dan berkeliling kabupaten atau kota yang menjadi daerah pemilihannya.
Namun, karena dia harus bertarung di masyarakat yang suka pengajian dan makan lele, Endin pun harus kembali membuka kitab kuningnya untuk mengisi pengajian dan membuka buku ensiklopedinya untuk menjelaskan sejarah lele.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut bapak 5 anak ini, selain harus membuka koleksi kitabnya, dia juga dituntut untuk mencari bahan menarik saat berbicara di komunitas penjual pecel lele yang tersebar di dapilnya (kabupaten Serang, kota Serang dan kota Cilegon). Setelah berfikir, Endin akhirnya mendapat ide menceritakan sejarah lele yang selama ini tidak dipikirkan oleh para penjual pecel lele sekalipun.
"Karena saya menghadapi para pengusaha pecel lele yang sangat banyak di dapil saya, saya harus memutar otak. Akhirnya, selain mengajari bagaimana mengembangkan usahanya, saya juga menceritakan sejarah lele," papar Endin.
Terobosan Endin ini ternyata membuat para penjual lele menjadi lebih antusias dalam mengikuti forum-forum yang diadakanya. Alasanya, selain mereka mendapatkan ilmu bagaimana mengembangkan usahanya, para penjual lele yang terorganisir rapi ini juga mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah lele yang ternyata ada di seluruh dunia.
"Jadi para pedagang dan keluarganya ini menjadi terhibur saat saya menjelaskan sejarah lele selain mereka dapat ilmu manajemen bisnis. Mereka juga jadi tahu, kalau species ikan lele itu ternyata ada di seluruh belahan dunia, tentu dengan berbagai model dan ukuran. Saya tahu itu semua dari ensiklopedi," kata Endin dengan tertawa.
Selain menggarap masyarakat dengan pendekatan 2 model itu, mantan ketua FPPP DPR ini juga melakukan pendekatan dengan tidur di rumah warga. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui langsung dan merasakan simpati rakyat yang selama ini mengalami kesulitan akibat beratnya beban hidup mereka karena harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
"Ada 4 ada model yang saya lakukan dalam mendekati masyarakat. Pertama pendekatan struktural partai, kedua dengan tandem bersama caleg DPRD kabupaten dan provinsi, ketiga bersosialisasi langsung dengan masyarakat, salah satunya dengan tidur di rumahnya, dan terakhir jaringan keluarga," papar Endin.
Saat ditanya apakah optimistis dengan semua usaha yang telah dilakukannya ini akan membuahkan hasil, ia hanya berujar, "Namanya manusia, kan kita hanya bisa berusaha. Allah lah nanti yang akan menentukan semuanya. Yang penting saya sudah ikhtiar, semoga saja semua berjalan lancar,' jawab Endin.
Berapa biaya yang sudah dikeluarkan? "Nggak begitu banyak kok. Karena saya ini kan aslinya lahir di Serang, jadi masih banyak keluarga yang membantu. Istilahnya tidak mati obor," pungkasnya. (yid/iy)











































