Ginandjar 'Promosi' SBY di Tokyo

Ginandjar 'Promosi' SBY di Tokyo

- detikNews
Selasa, 24 Feb 2009 10:46 WIB
Ginandjar Promosi SBY di Tokyo
Jakarta - Meski tak pernah menjadi kader Partai Demokrat, calon senator dari Jawa Barat Ginandjar Kartasasmita tak sungkan untuk 'mempromosikan' SBY di Jepang. Dia menyebutkan bahwa SBY lebih unggul dibandingkan Megawati.

Hal itu mengemuka saat Ginandjar Kartasasmita menjadi pembicara kunci dalam kuliah terbuka di National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), yang dihadiri sekitar 150 mahasiwa Jepang dan asing di Tokyo pada Senin sebagaimana siaran pers DPD pada detikcom, Selasa (24/2/2009).

Ginandjar datang ke Jepang atas undangan pimpinan GRIPS Profesor Takashi Shiraishi, yang juga seorang Indonesianis. GRIPS sendiri merupakan perguruan tinggi sekaligus lembaga kajian yang didirikan oleh pemerintah Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam makalah berjudul 'The Tale of Two Crisis - Political Respons to Economic Crisis: Lesson from Indonesia', Ketua DPD 2004-2009 ini menyebutkan bahwa rakyat Indonesia masih lebih memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketimbang kandidat lainnya yang ikut maju dalam pemiu 2009.

Ia pun mengutip salah satu hasil survesi sebuah lembaga kajian di Jakarta yang banyak mempromosikan Partai Demokrat. Mantan Menteri Koordinator Ekonomi dan Industri (Ekuin) itu juga menyebutkan bahwa ada dua kandidat utama yang akan bertarung dalam pemilu presiden pada Juli 2009, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri.

"Jika dibandingkan secara head to head di antara keduanya, Yudhoyono masih lebih unggul ketimbang Megawati hingga Desember 2008," kata Ginandjar lagi.

Keterangan soal Presiden dan partainya, Partai Demokrat, menyita 20 halaman slide dari 82 slide yang ditampilkan. Partai Demokrat digambarkan sebagai partai yang 'serba hebat' mulai dari partai yang paling bersih dari praktek korupsi, paling mampu menyelesaikan persoalan nasional, program pemerintahannya paling menarik, hingga partai paling merespon aspirasi rakyat.

Sementara mantan presiden Megawati Soekarnoputri dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) digambarkan kalah populer. Begitu juga dengan kandidat presiden lainnya dan partai politik lainnya.

Penjelasan Gindanjar selebihnya mengenai sejarah perjalanan bangsa Indonesia mulai dari jaman Orde Lama, chaos di tahun 1965-1966 dan pergantian kepemimpinan ke rezim Orde Baru hingga ke rezim reformasi.
(nrl/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads