Hal itu diungkapkan GKR Hemas dalam acara diskusi "Demokratisasi dan Keterwakilan Perempuan Pasca Keputusan MK" di gedung Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (20/2/2009).
"Kalau melihat jumlahnya sedih saya. Dulu saat mendaftar ada empat, namun setelah pengumuman oleh KPU tinggal saya sendiri," kata perempuan kelahiran Jakarta, 31 Oktober 1952 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa saya ini ditakdirkan untuk berjuang sendiri? Untungnya Ngarso Dalem tidak mengekang kegiatan saya," ungkap ibu 5 anak ini.
Menurut dia, perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan kuota 30 persen kursi di DPR bukanlah hal yang mudah. Perjuangan yang mereka lakukan sangat melelahkan secara fisik dan batin. "Mereka juga sering menerima perlakukan tak mengenakkan oleh beberapa orang anggota Dewan," katanya.
Hemas juga menyentil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang suara terbanyak. Sebab berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya saat bersekolah, yang paling berkuasa adalah presiden. Namun sekarang ini berubah, bukan ada di tangan presiden, tapi MK-lah yang berkuasa. "Keputusan itu sangat mengecewakan dan
sangat tidak diharapkan," ujar Hemas.
(bgs/nrl)











































