"Saya dari dulu hobi saya itu rajin silaturahmi, modal saya silaturahmi saja. Kawinan dalam seminggu ada puluhan saya hadiri. Pokoknya asal saya sehat dan kuat, satu hari lima undangan dipenuhi semua," ujar AM Fatwa kepada detikcom, Selasa (17/2/2009).
"Kalau silaturahmi itu luas sekali maknanya. Kalau orang harus berpidato atau apa bosan juga. Yang penting itu pengenalannya," imbuh dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini juga menyatakan, membidik pemilih pemula. Maka, berkampanye melalui jejaring sosial maya pun dia lakukan.
"Itu tim saya yang menjalankan. Saya terlalu lama di penjara sedikit agak kagok menggunakan teknologi modern. Anak saya juga membantu," ujarnya.
Mengenai dirinya yang pindah jalur berpolitik dari MPR/DPR ke DPD, Fatwa mengatakan dia ingin ada keseimbangan pusat dan daerah. Karena dalam sistem sentralisme Orde Baru, banyak ketimpangan yang dialami daerah, seperti ketidakadilan pembagian sumber daya alam (SDA), ekonomi, yang ditopang birokrasi dan militer.
"Saya ingin menjadi penghubung antara Pemda dan Pemerintah Pusat. Karena banyak kebijakan DKI yang berimpitan dengan Pempus," ujarnya.
Fatwa mencontohkan salah satu kebijakan yang berhimpitan dan akan diperjuangkannya adalah transportasi massal seperti subway. Selain itu konsep megapolitan juga menjadi perhatiannya.
"Konsep megapolitan saya turut membantu memperjuangkannya. Karena kota penyangga Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Cianjur harus ditata dalam suatu pengelolaan pemerintahan dan nggak bisa lagi semrawut begini hubungannya," papar Fatwa.
Dia pun percaya diri dengan bekal dua kali menjadi anggota DPR. "Saya juga pernah menjadi staf di Pemda selama sembilan tahun di bawah Gubernur Ali Sadikin," promosinya. (nwk/nrl)











































