Di dapil 'angker' yang meliputi Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Boyolali dan Kota Solo ini, Dita mengaku berkocek pas-pasan untuk jor-joran memasang baliho dan spanduk seperti caleg yang lain.
"Kalau serangan udara (baliho dan spanduk) saya pasti kalah. Tapi saya andalkan serangan darat. Dan saya tetap optimistis menang," ujar Dita Indah Sari saat berbincang dengan detikcom, Jumat (6/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keluarga mertua saya dari leluhurnya nggak pernah pergi dari sini. Jadi struktur keluarga saya di sini kuat. Lagian sosialisasi lewat keluarga murah dan nggak makan banyak biaya," papar mantan ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.
Dalam masyarakat Jawa, lanjut Dita, faktor kedekatan keluarga sangat berpengaruh pada kerelaan untuk memberikan bantuan.
"Dalam ikatan keluarga di Jawa, kalau mereka (niat) membantu, pasti membantu beneran. Alasan meraka untuk memilih tidak sepenuhnya politis," jelas wanita kelahiran 30 Desember 1972 ini.
Tak tanggung-tanggung, kata dia, sang mertua juga ikut-ikutan turun kampanye. Sang mertua pun memanfaatkan berjubelnya acara-acara syukuran di kalangan masyarakat Jawa.
"Ini loh anak (menantu) saya, dia caleg PBR nomor 1," ujar Dita mencontohkan trik promosi sang mertua di tengah-tengah acara syukuran.
Bagaimana dengan di luar Boyolali? "Saya sudah bekerja sama dengan caleg DPRD tingkat II untuk saling membantu. Kalau mereka ada acara, saya sekalian numpang promosi," katanya terkekeh. (lrn/nrl)











































