Banyak kisah sukses orang-orang Indonesia yang mengadu nasib di negeri Petronas. Bukan saja sukses dalam soal ekonomi, tapi juga bidang lain. Salah satunya sebut saja Machrodji Maghfur (48), bekas TKI yang berani mengadu keberuntungan menjadi calon legislatif dalam pemilu legislatif pada April 2009.
Nomor urut pencalegan Maghfur terbilang menguntungkan. Oleh partainya, Partai Kebangitan Bangsa (PKB), dia ditempatkan di posisi nomor urut 2 pada Dapil DKI Jakarta 2 dari wilayah luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maghfur menceritakan, kisah perjalanan hidupnya menjadi TKI di Malaysia dimulai sejak 29 tahun silam. Usai menamatkan pendidikan dari sebuah STM di Surabaya, dengan modal nekat Maghfur pergi merantau ke Malaysia.
"Waktu itu banyak orang bilang kalau orang yang tidak tahu apa-apa saja bisa hidup di Malaysia. Apalagi orang yang berpendidikan. Jadi saya beranikan saja mengadu nasib ke sana," ujarnya.
Perjalanan ke Malaysia ditempuhnya selama 3 bulan sebelum akhirnya sampai pada November 1980. Dalam perjalanan menuju Malaysia, Maghfur sempat singgah di Jakarta, Tanjung Pinang, dan Singapura.
Di Tanjung Pinang, dia bekerja menjadi pencabut ubi di perkebunan milik orang lokal selama 2 bulan. Di Singapura, dia bekerja dengan orang Cina. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakoninya untuk menyambung perjalanan supaya sampai ke Malaysia.
"Pos pertama saya tinggal di Malaysia yaitu di Damansara, Kuala Lumpur. Setelah dua hari di sana, langsung jadi tukang besi di kontruksi sampai 5 tahun," ujar Maghfur.
Di Malaysia, pekerjaan yang dilakoni Maghfur selalu berganti-ganti. Mulai dari buruh di kontruksi menjadi tukang besi, tukang kayu, ikut bisnis MLM (Multi Level Marketing), membantu advokasi TKI bermasalah hingga bekerja pada salah satu PJTKI milik Malaysia.
Maghfur juga menceritakan tentang sikap dan pandangan pemerintah Malaysia terhadap WNI ketika itu. Menurut dia, sejak tahun 80-an ada keinginan politik baik yang tersirat dari pemeintah Malaysia untuk 'mengundang' masuk WNI. Tujuannya untuk mengimbangi populasi non-melayu yang cukup besar di Malaysia saat itu. Dari keinginan politik itu, lanjut Maghfur, Malaysia mengeluarkan kebijakan untuk mempermudah masuknya WNI yang ingin bekerja.
"Tidak ada permitaan kerja seperti sekarang. Cukup paspor. Jadi masa itu, yang ditakuti bukan dokumen, tapi kerja. Sekarang yang ditakuti dua-duanya, dokumen dan kerja," ungkap ayah lima orang anak ini.
Karena kebijakan tersebut, Maghfur dan keluarganya memperoleh Permanent Resident (PR) dari pemerintah Malaysia, yaitu kartu pengakuan sebagai penduduk bagi warga asing dan memiliki hak-hak yang sama dengan warga lokal. Yang membedakan, penduduk pemegang PR tidak memiliki hak memilih dan dipilih dalam pemilu. "Dengan PR ini, kita boleh tinggal selama-lamanya, selama Malaysia puas hati dengan kelakuan kita,"ujarnya.
Saat ini Maghfur bekerja pada bidang jasa dan konsultasi TKI yang dikelolanya sendiri.
Ditunjuk Cak Imin
Proses pencalonan Maghfur menjadi caleg DPR RI di luar dugaan. Menurutnya, ada campur tangan Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar dalam pencalonannya sebagai caleg.
"Saya juga kaget. Kok saya ditunjuk jadi caleg. Kabarnya ini penunjukkan dari Cak Imin langsung," kata Maghfur.
Meski demikian, Maghfur yang kerap disebut sebagai salah satu tokoh di Chowkit mengatakan, faktor ke-NU-an menjadi alasan penunjukkan atas dirinya. Sejak di Surabaya, Maghfur memang hidup dalam lingkungan Nahdliyin.
"Dipilih jadi caleg, karena ada keinginan PKB untuk terus berjuang. Ada caleg yang tahu betul-betul persoalan TKI di Malaysia. Mungkin itu alasannya," katanya yang sekarang juga sebagai Ketua PKB Malaysia ini.
Maghfur optimis dapat mendulang 20 persen suara dari DPT se-Malaysia dalam pemilu mendatang. Alasannya, menurut dia, sebagian besar TKI yang bekerja di Malaysia berdarah NU. Komunitas Jawa-Bawean pun, lanjutnya, menjadi salah satu basis kekuatannya.
"Terus terang, 70 persen TKI di sini adalah Nahdliyin, karena mereka dari Bawean Jatim. Jumlah masyarakat bawean mencapai 270 ribu. Jadi tentu ada ikatan moral," kata Maghfur.
(rmd/aan)











































