"Politik itu belajar ikhlas. Ibarat menanam pohon jati, bukan pohon jagung. Semua politisi kita hanya menanam pohon jagung, artinya kerja kerasnya baru 4-5 bulan sebelum Pemilu, harusnya 10 tahun dia sudah bekerja keras duluan," jelas calon senator yang maju lewat jalur independen ini.
Dengan politik pohon jati itu, maka jangan heran bila Dibo sudah jauh hari menyemai benih investasi untuk mendulang dukungan jabatan senator yang diincarnya. Ia tidak mendadak sok peduli pada orang kurang mampu begitu mendekati kampanye, seperti kebanyakan para politisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jujur, kadang kita kasihan juga sama masyarakat karena fasilitas seperti mobil jenazah saja sulit dan mahal," ujar Dibo kepada detikcom.
Dibo hanya memiliki satu mobil jenazah saat mengawali kegiatan sosial tersebut. Tapi kini jumlah mobil jenazah sudah bertambah menjadi 5 unit. Menurut Dibo, semua mobil tersebut dibeli dari sisa keuntungan dari UKM percetakannya yang dirintisnya sendiri di Jl.Raya pasar Minggu Kalibata, serta sumbangan.
Dibo mengaku, meskipun saat ini dirinya terdaftar sebagai calon anggota DPD, namun pemberian jasa mobil jenazah gratis ini bukan dalam rangka kampanye semata. "Ini bukan dalam rangka kampanye, semua masyarakat boleh pakai terlepas siapapun dia, milih saya atau tidak, silakan gunakan. Bahkan kalau saya gagal pun ini akan terus berjalan karena saya yakin masyarakat Jakarta adalah pemilih yang cerdas," kata Dibo.
Selain menyediakan mobil jenazah gratis, Dibo yang menjadi calon senator dengan nomor urut 19 ini juga tengah mengurus Taman Pendidikan Alquran di lingkungannya.
Bila berhasil terpilih jadi senator, apa yang akan dilakukan Dibo? Dibo berjanji 60% dari pendapatanya sebagai anggota DPD akan ia sumbangkan. "Kalau saya terpilih, 60% dari pendapatan saya sebagai anggota DPD akan saya sumbangkan. Saya makan untuk berpolitik. Bukan berpolitik untuk makan".
Bagi Dibo, menjadi anggota DPD bukan akhir dari perjalanan pengabdianya, tetapi baru awal. Ia masih menyimpan keinginan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta atau bahkan presiden di kemudian hari. (iy/nrl)











































