"Titip, Pak. Titip, Bu," kata mereka ke setiap jemaah yang melintas hendak salat.
Yang ditawari tampak merespon mengiyakan. Begitu mendapat sinyal positif, anak-anak itu segera mengambil sandal atau sepatu yang bersangkutan lalu meletakkannya di tempat khusus..
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa bocah laki-laki menawarkan jasa pengamanan alas kaki para jamaah di waktu sholat Dzuhur. "Soalnya suka pada ilang, sering ketukar," kata salah seorang anak bernama Dodi, Rabu (3/9/2008).
Dari jasa pengamanan itu, Dodi dan kawan-kawan akan mendapat tip dari empunya sandal atau sepatu. Nominalnya beragam tiap orang.
Ada yang memberi Rp 2.000-Rp 10.000. Dari menjual jasa ini, Dodi dan kawan-kawan bisa meraup uang Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.
Uang sejumlah ini akan mereka bagi bersama karena mereka bekerja sebagai tim. Tiap orang akan mendapat antara Rp 8 ribu hingga Rp 15 ribu.
"Lumayan buat jajan," kata Dodi.
Selain buat jajan, sebagian uang itu ada yang ia tabung.
"Kemarin saya baru beli celengan," akunya.
Menurut bocah kelas 3 SMP ini, pelayanan semacam itu mereka berikan hanya di bulan Ramadan. Alasannya, di bulan Ramadan peserta jamaah di masjid itu jauh lebih banyak dibanding di luar Ramadan.
"Kalau di luar Ramadan paling cuma 15 orang," terang Dodi.
Dengan jumlah jamaah yang hanya segelintir, pengamanan alas kaki bisa dilakukan sendiri oleh pihak takmir masjid.
"Kita suka nggak enak sama mereka (takmir) kalau nggak (di bulan) puasa," kata Dodi.
Pantauan detikcom, jamaah Salat Dzuhur di masjid yang terbilang megah itu memang cukup banyak, mencapai ratusan orang. Jika di hari biasa hanya berkisar 15 orang, itu artinya peningkatannya 10 kali lipat lebih.
Para jamaah pun cukup terbantu dengan adanya pelayanan semacam ini. Selain alas kaki mereka aman, mereka juga menjadikannya sebagai momen untuk bersedekah.
"Itung-itung bersedekah lah. Mumpung bulan puasa," kata salah seorang jamaah bernama Dimas.
Meski kelihatannya ringan, namun pekerjaan semacam itu juga mengandung risiko. Sebab Dodi dan kawan-kawan tidak bisa menghafal semua orang yang menitipkan alas kakinya pada mereka. Kemungkinan salah orang tetap ada.
Selain itu, karena banyaknya jumlah alas kaki yang harus mereka jaga, tidak semuanya bisa terpantau dengan baik. Meski tim mereka cukup banyak, sekitar 8 orang, tapi kemungkinan barang jagaan mereka hilang tetap ada.
"Kalau hilang paling dibilangin lain kali suruh jaga yang bener. Kalau disuruh ganti ya ganti," ujar Dodi.
(sho/gah)











































