Namun Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Purwo Santoso menilai, manuver pemerintah soal LNG Tangguh itu fair-fair saja. Mengapa? Karena, deal yang dulu dilakukan Megawati Soekarnoputri memang sangat merugikan Indonesia.
"Kalau dimentahkan lagi, memang akan mencoreng nama Megawati, jadi wajar kalau PDIP merasa terpukul. Itu memang pukulan berat," katanya kepada detikcom, Selasa (2/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purwo mengatakan, sebenarnya usulan renegosiasi itu sudah lama diwacanakan. Dan saat ini, di saat harga minyak melambung tinggi, memang menjadi momen yang tepat untuk membukanya kembali.
"Terlepas siapa yang mengambil keuntungan dari wacana ini, wacana renegosiasi memang sudah lama diwacanakan. Rasa tidak adil dengan penjualan yang dulu itu, kini makin dirasakan dramatis dengan harga minyak yang tinggi," ujarnya.
Sebelumnya, wacana ini seakan membuat PDIP kebakaran jenggot. Beberapa manuver 'pembalasan' dihembuskan oleh partai berlambang banteng itu.
Selain menantang SBY-JK berdebat dengan Megawati, PDIP juga menuding JK sengaja memainkan isu penjualan LNG Tangguh itu. (ken/ken)











































