"Lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an terucap dari Imam Masjdil Haram, terasa semakin mendekatkan diri kepada Sang Illahi, begitu antusiasnya para jamaah salat tarawih dengan lebih khusyu' menyelesaikan rakaat demi rakaat". Demikian ungkapan perasaan Adam Haenuddin, salah seorang WNI yang bermukim di Makkah, saat ditemui usai salat tarawih berjamaah di Masjidil Haram, Minggu (31/8/2008).
"Setiap bulan suci Ramadan, Imam Masjidil Haram dalam salat tarawih menghabiskan bacaan hafalan satu juz setiap malam, seiring berakhirnya Ramadan selama sebulan persis tamat Al Qur'an 30 juz," sambung Adam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbuka puasa di dalam Masjidil Haram suatu kenikmatan tersendiri. Penduduk Saudi, mukimin di Makkah maupun jamaah umrah biasanya emmbawa makanan dan minuman masuk ke dalam masjid untuk mengejar keberkahan buka puasa di Haram.
"Kurma dan Gahwa Arab (Coffee Arab) yang biasa dibawa masuk oleh warga penduduk atau mukimin untuk dibagikan ke jamaah lain yang sama-sama menanti waktu buka puasa dalam Masjdil Haram," tutur Adam Haenuddin. (nrl/nrl)










































