Saidan, Meester dari Kebumen di Sarang Regent

Wawancara

Saidan, Meester dari Kebumen di Sarang Regent

- detikNews
Minggu, 31 Agu 2008 17:42 WIB
Saidan, Meester dari Kebumen di Sarang Regent
Wassenaar - Tak pernah terbayangkan oleh meester (bahasa Belanda guru, red) Saidan bahwa suatu ketika dia akan menginjakkan kaki di Belanda menjadi direktur sebuah sekolah di bawah naungan langsung Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Depdiknas: Sekolah Indonesia Nederland (SIN).

Lokasi sekolah yang dipimpin pria yang baru saja berulangtahun ke-42, lahir di Kebumen, 24/8/1966, itu ada di Wassenaar, kawasan elite di mana dulu merupakan tempat tinggal para regent dan pembesar VOC, dan kini menjadi kompleks residensi para dubes asing dan orang kaya di Belanda.

Tapi saat pertama tiba di sekolah tempat tugas barunya itu Saidan nyaris tak percaya. Sekolah ini kurang terurus. Sarana dan prasarana sekolah merana, kurang mendapat perhatian. Sampai di titik ini Saidan, yang tiba di Belanda pada 23/1/2007, baru memahami mengapa sekolah yang pernah menjadi ladang ajar Rini Mariani Soemarno (mantan Menperindag) itu pernah mau dilikuidasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersama staf pengajar sekarang, Saidan yang mengibarkan moto Aspiring for International Standard, but Remains Indonesian, itu membenahi SIN bangkit, baik dari segi fisik maupun prestasi para siswa didik. Dia antara lain melembagakan morning speech dan merintis koperasi siswa.

Koresponden detikcom di Belanda mewawancarai Saidan yang dikenal para siswa dan stafnya sebagai low profile, jujur, egaliter, demokratis, dan selalu terbuka melibatkan mereka dalam berbagai hal demi sekolah. Wawancara berlangsung di ruang guru SIN di Wassenaar berbarengan dengan hingar-bingar hiburan Dorce dkk pada Festival Budaya (17/8/2008), dilanjutkan melalui dua kali kontak ponsel dari lokasi koresponden berlibur di Luxemburg. Berikut ini petikannya.

Bagaimana anda bisa sampai ke Belanda, mengepalai sebuah sekolah di bawah naungan kedutaan?

Pada Maret 2006 ada pengumuman seleksi kepala sekolah Indonesia di luarnegeri di bawah KBRI untuk 9 lokasi, salah satunya Belanda yang difavoritkan guru. Dari 260 guru yang memenuhi syarat melalui seleksi tingkat kabupaten hingga provinsi, hanya diambil 20 besar untuk mengikuti seleksi tingkat nasional di Jakarta. Dari 20 besar itu selanjutnya diambil 9 guru terbaik yang memenuhi syarat untuk memimpin sekolah Indonesia di luarnegeri.

(Detikcom mendapat informasi bahwa dari hasil seleksi nasional itu Saidan ranking I, sehingga dipercaya menjadi kepala SIN di Belanda).

Anda termasuk guru terbaik Indonesia. Anda boleh bangga...

Terimakasih. Saya cuma guru biasa yang berusaha mengingat sumpah dan menjalankan amanat serta tugas sebaik-baiknya untuk negara.

Apakah ini pengalaman pertama Anda bertugas ke luarnegeri?

Sebelumnya saya sudah pernah terpilih ditugaskan di Bribie Island State High School, Queensland, Australia, selama satu semester dari Juli sampai Desember 2005, mengajar bahasa Indonesia. Tapi untuk posisi kepala sekolah ini pengalaman pertama.

Temuan apa yang paling menyolok pada hari-hari pertama Anda menginjakkan kaki di SIN?

Temuan saya antara lain sekolah dan fasilitasnya kurang perhatian, papan tulis masih blackboard model lama, belum ada fasilitas ICT memadai dan amburadul. Sarana prasarana masih minim dan sarana standar masih terbatas. Juga tidak ada papan nama yang menunjukkan identitas sekolah. Saya hampir tidak percaya.

Bagaimana perasaan Anda saat itu?

Saya merinding. Sedih. Ini tidak boleh terjadi. Sekolah adalah wajah bangsa kita. Apalagi di luarnegeri.

Apa yang anda lakukan setelah itu?

Setelah menginventarisir temuan, saya langsung mengajak musyawarah dengan seluruh warga sekolah untuk memperbaiki sarana prasarana demi meningkatkan kinerja dan prestasi siswa dan sekolah. Temuan juga saya konsultasikan dengan KBRI Den Haag dan Depdiknas di Jakarta.

Bagaimana respon para pejabat di KBRI dan Depdiknas?

Responnya alhamdulillah menggembirakan. Pak Dubes Fanny (J.E Habibie, red) sangat mendukung rencana tindakan yang saya sampaikan. Beliau komitmennya tinggi untuk memajukan sekolah. Kalau diundang untuk kegiatan sekolah beliau juga selalu datang. Wakepri Djauhari Oratmangun ikut memback-up semua kegiatan dan progam sekolah. Depdiknas juga mendukung penuh, antara lain melalui block grant.

Anda menyebut block grant. untuk apa saja?

Dana block grant langsung dipakai untuk meningkatkan fisik dan sarana prasarana SIN menjadi lebih representatif untuk nama bangsa. Gudang bawah yang tadinya kumuh semrawut tak terpakai, dibersihkan dan dicat, lalu dimanfaatkan untuk ruang musik. Blackboard dan kapur kini telah digantikan whiteboard kualitas I, fasilitas ICT lengkap dari laptop, beberapa printer termasuk printer warna, hingga beamer dan layarnya untuk kepentingan presentasi dan belajar siswa. Selain itu SIN kini juga punya kelengkapan lambang negara. Karpet yang sudah tua diganti baru, interior sekolah juga diperbarui serta ditata ulang. Dan SIN kini telah punya papan nama. Dalam waktu kurang dari setahun SIN telah berubah signifikan.

Begitu cepat?

Setiap proposal untuk block grant yang kami ajukan ke Jakarta alhamdulillah memang cepat turun dan cair. Saya kira karena mereka sangat peduli. Dan saya selalu percaya bahwa kebaikan akan memantulkan kebaikan pula.

Setelah fisik SIN Anda benahi, bagaimana dengan prestasi siswa atau guru?

Dua siswa kami Juara III di Kuala Lumpur, 2007. Dalam even sama staf guru kami, Gunaryadi dengan asisten Halimatus Sa'diyah, menyabet predikat Juara II untuk lomba karya ilmiah. Tingkat kelulusan ujian nasional siswa kami 100% untuk semua level. Dan lulusan SMA kami dapat diterima langsung kuliah di Eropa.

Kiprah lain? Misalnya di level internasional, yang bisa dibanggakan sesuai posisi SIN?

Seperti mas pernah tulis, Pak Menlu Wirajuda itu punya visi diplomasi total. Selain Deplu, masyarakat WNI di negara setempat juga diharapkan peranannya demi bangsa. Nah, untuk pertama kali dalam sejarah SIN menyumbang pentas seni budaya dalam rangka Koninginnedag (Hari Ratu, red) di Belanda, kegiatan di Universitas Leiden terkait Sumpah Pemuda, dan setiap tahun SIN diundang mengikuti The Hague International Model United Nations (THIMUN) sebagai wakil Indonesia.

SIN juga selalu aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya yang digelar KBRI. Selain itu SIN aktif berpartisipasi dalam kepedulian sosial, seperti Educares, sebuah kegiatan fund raising PPI untuk membantu anak-anak tak mampu sekolah di tanah air.

Apa kiat Anda mengangkat SIN menjadi seperti sekarang?


Kuncinya, semangat untuk selalu berbuat terbaik. Siswa juga harus diperhatikan dan difasilitasi. Termasuk baru di SIN adalah kegiatan penunjang prestasi siswa seperti esktra kurikuler rohani, seni budaya, sampai koperasi siswa. Koperasi ini sangat membantu siswa. Kalau dulu mereka kehabisan tinta harus beli pulpen ke kota, harus naik bis sehingga mahal biaya, sekarang cukup beli di koperasi siswa.

Punya pendekatan atau manajemen khusus?

Saya dan kawan-kawan menerapkan 6C: commitment, communication, coordination, cooperation, courtesy, care. Intinya seluruh pihak sekolah termasuk siswa dilibatkan dalam mencari solusi terbaik dan bermanfaat untuk sekolah.

Apa harapan Anda pada Depdiknas?

Sesuai amanat UUD dan aspirasi masyarakat, Depdiknas bersama Deplu perlu mempertahankan eksistensi SIN dan sekolah Indonesia di luarnegeri lainnya, karena ini adalah simbol eksistensi bangsa, budaya, dan pendidikan Indonesia di luarnegeri. Bantuan dan bimbingan teknis juga terus kami harapkan.

Suatu saat Anda akan meninggalkan sekolah ini. Menurut Anda apa kira-kira yang bakal membuat siswa, staf SIN dan masyarakat mengenang seorang Saidan?

Mungkin morning speech. Limabelas menit sebelum pelajaran dimulai saya mewajibkan siswa menyampaikan morning speech dalam bahasa Belanda atau Inggris, dilanjutkan dengan tanya jawab. Program ini untuk melatih rasa percaya diri siswa dan mengasah keterampilan bahasa asing mereka. Saya kira ini akan sangat membekas.Selain itu saya juga mengembangkan dan membangun kultur serta lingkungan lingkungan pendidikan yang membawa rahmat barokah dengan mengajak seluruh komunitas sekolah agar memliki motivasi, dedikasi dan etos kerja tinggi, kerjasama, santun, demokratis, egaliter dan berorientasi kepada pelayanan prima.


Saidan

Tempat/Tanggal Lahir: Kebumen, 24 Agustus 1966

Pendidikan: Sarjana Bahasa Inggris, Unnes Semarang, 1993

Pengalaman Kerja Sebelumnya:

- Wakasek SMAN Patikraja, Banyumas
- Pertukaran Guru, Queensland, Australia, 2005
- Instruktur Bahasa Inggris Jawa Tengah
- Ketua MGMP Bahasa Inggris SMA, Banyumas
 

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads