Sejak pukul 07.00 WIB, Minggu (31/8/2008), Ijal, begitulah sapaan akrabnya, sudah mulai menyapu-nyapu salah satu makam yang terletak di Blok A II taman pemakaman Joglo, Jakarta Barat. bocah laki-laki yang tinggal tak jauh dari pemakaman itu bukan serta merta membersihkan makam orang yang bahkan tak dikenalnya itu secara sukarela.
Dia dan seorang kawannya, Andi, menyapu memang karena diminta oleh Pak
Mahmud, keluarga si mpu-nya makam. Tak berapa lama, Ijal dan Andi pun sudah selesai membersihkan makam, dan Mahmud memberikan imbalan kepada keduanya sebesar Rp 5.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
kasih saya berapa. Kadang ada yang kasih Rp 1.000 tapi ada juga
yang kasih Rp 10 ribu. Hasilnya kalau dikumpulkan sehari saya bisa dapat sampai Rp 50 ribu," aku Ijal masih duduk di bangku kelas tiga SMP 142 Jakarta, itu kepada detikcom.
"Kalau sudah dapat banyak baru saya pulang. Lumayan, hasilnya untuk nambah uang jajan," imbuhnya.
Berbeda dengan ijal, Andi yang bermodalkan gunting rumput mengaku uang yang ia dapatkan dari hasil kerjanya akan ia kumpulkan untuk membeli baju baru.
"Sekalian bantu-bantu orangtua, supaya ibu sama bapak tidak perlu lagi repot-repot mencari uang untuk membelikan baju saya dan adik," ungkapnya sambil tertunduk.
Apa yang dilakukan Andi dan Ijal hanyalah sebagian dari banyak
profesi yang biasa dijumpai di areal pemakaman. Terutama pada waktu-waktu tertentu seperti saat-saat menyambut bulan Ramadan sekarang ini.
Pekerjaan mereka rata-rata memang pekerjaan sampingan yang dilakukan
di waktu luang karena banyaknya pengunjung makam.
Juki (50), salah satu petugas lapangan di Pemakaman Joglo, mengaku
sudah sepuluh tahun bekerja sebagai perawat makam. Dirinya juga mengaku tak pernah mematok bayaran untuk setiap pekerjaan yang dilakukannya.
"Kebanyakan peziarah meminta saya untuk menanam pohon bunga atau
memasang keramik pada makam dan meninggikan tanah makam," ujarnya.
Meski begitu, Juki tidak pernah merasa kekurangan. Menurutnya, dari hasil pekerjaannya itu ia justru dapat menghidupi istri dan keempat orang anaknya. Warga Gang Kubur, Joglo, Kebon Jeruk, Jakbar, ini justru merasa senang karena dari hasil pekerjaannya itu banyak orang yang merasa terbantu.
Selain Ijal, Andi dan Juki, Maman dan Bedah pun sejak pagi sudah mangkal di areal pintu makam. Bukan sebagai pembersih makam, Maman yang sejak seminggu lalu baru sampai di Jakarta berharap mendapat rejeki dari belas kasihan para pengunjung makam.
Lelaki asal Kuningan, Jawa Barat, ini mengaku memang sering mangkal di pemakaman Joglo. "Tempatnya ramai, jadi banyak pengunjung yang ngasih setiap lewat." ungkapnya sambil sesekali membetulkan peci di kepalanya.
Lain lagi dengan Bedah, perempuan yang bertempat tinggal tak jauh dari pemakaman ini mengaku sejak lama berjualan kembang di areal pemakaman Joglo.
Bedah mengaku pada masa-masa menjelang Ramadan biasanya pendapatannya mencapai tiga kali lipat dari hari biasanya.
Banyaknya peziarah membuat Bedah bisa meraih keuntungan hingga 100 persen
dari biasanya. "Untuk harga kita sesuaikan, kalau banyak permintaan kan pasti harganya juga berbeda," ungkapnya.
"Kebanyakan orang yang datang membeli bunga rampai untuk ditabur di
atas makam dan air kembang. Untuk bunga utuh biasanya yang dibeli
adalah bunga sedap malam dan aster," paparnya.
Seminggu terakhir ini Bedah mengaku harus bangun lebih pagi dari biasanya. Sebab, sejak seminggu ini sudah banyak peziarah yang datang. Tidak mau kehilangan rezeki, Bedah pun rajin menyambangi pasar bunga di bilangan Rawa Belong, Meruya, untuk mendapatkan bunga segar yang akan dijualnya.
"Hasilnya Lumayan untuk beli baju baru lebaran nanti." pungkasnya. (irw/irw)











































