Omzet Kurma Naik 2 Kali Lipat

Omzet Kurma Naik 2 Kali Lipat

- detikNews
Minggu, 31 Agu 2008 14:30 WIB
Omzet Kurma Naik 2 Kali Lipat
Jakarta - Puasa datang, kurma laris manis. Buah khas Timur Tengah yang manis dan kenyal ini adalah favorit umat muslim untuk berbuka.

Sehari menjelang 1 Ramadan, tak heran jika jumlah konsumen kurma meningkat tajam.

Di salah satu pusat penjualan kurma di Jakarta Pusat yaitu di Pasar Tanah Abang, para penjual kurma merasakan berkah puasa. Omzet mereka meningkat berlipat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu dialami Bimbim misalnya. Penjaga toko kurma di Jl KH Mas Mansyur ini mengaku omzetnya meningkat dua kali lipat menjelang puasa.

"Banyak Mas, sampai dua kali lipat," katanya saat ditemui di kiosnya yang berada di pinggiran Jl KH Mas Mansyur, Minggu (31/8/2008).

Di hari biasa, Bimbim mengaku bisa menjual sekitar 100 kg per hari. Sejak dua minggu menjelang puasa, jumlah itu meningkat mencapai 200 kg/hari. Peningkatan volume penjualan itu disertai dengan kenaikan harga yang diterapkan Bimbim.

"Dari pemasoknya (harganya) naik, jadi kami jualnya juga naik," tutur Bimbim.

Untuk kurma jenis Saudi misalnya, di hari-hari biasa Bimbim menjualnya dengan harga Rp 25 ribu per kilogram. Namun menjelang puasa, harganya naik menjadi Rp 35 ribu.

Kurma jenis Tunisia beda lagi. Di hari biasa kurma jenis ini memang sudah mahal, yakni Rp 55 ribu per kilogram. Menjelang puasa, harganya naik menjadi Rp 75 ribu. Dibanding jenis yang lain semisal Saudi, kurma jenis ini konon lebih empuk. Ukurannya pun lebih besar. Warnanya juga lebih cerah.

Hal serupa dialami Uuz. Di hari biasa, Uuz hanya bisa menjual sekitar 20 kg per hari. Sejak satu minggu menjelang puasa, terjadi lonjakan volume penjualan yang sangat tajam hingga mencapai 100 kg.

Namun agaknya kenaikan omzet penjualan kurma ini tidak dialami secara merata oleh semua pedagang. M Nuh, misalnya. Dia mengaku peningkatan volume penjualannya tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung turun dibanding tahun lalu.

Kalau tahun lalu dalam sehari omzetnya bisa mencapai hampir Rp 1 juta, menjelang puasa tahun ini omzetnya turun menjadi hanya Rp 200 ribu.

"Ramainya nggak merata. Ada yang sepi ada yang ramai. Kalau punya saya tergolong sedanglah," katanya.

Menurutnya, hal ini disebabkan karena tingkat kelengkapan masing-masing kios berbeda-beda. Semakin lengkap jenis kurmanya, semakin besar peluang lakunya. Namun semakin lengkap kios, semakin besar pula modal yang diperlukan.

"Punya saya yang seperti ini saja butuh modal Rp 8 juta. Kalau yang lengkap bisa sampai Rp 15 juta," tutur Nuh.

Hal serupa dialami Roji. Dia mengaku tidak terjadi kenaikan omzet yang cukup berarti menjelang datangnya puasa.

"Biasa aja Mas," katanya.
(sho/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads