Sama halnya dengan ormas Islam lainnya, mereka juga punya dasar penetapan awal puasa. Yakni dengan menggabungkan metode penghitungan bulan atau rukyah dan dengan cara melihat hilal atau penampakan bulan.
Pimpinan Jamaah An Nadzir kampung Mawang, Ustad Luqman menuturkan bahwa cara mereka sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad. Mereka sudah mengintai wujud bulan dari bulan-bulan sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luqman menambahkan, anggotanya sudah menyaksikan penampakan bulan sabit tipis pada pukul 05.45 Wita, di pemondokan mereka. Selain itu, menurut Luqman pergeseran akhir bulan Syaban ke awal Ramadhan ditandai dengan puncak pasang air laut pada pukul 09.00 Wita, di pantai Kalongkong, desa Bontosunggu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Sementara air laut menyurut pada sekitar pukul 14.00Β Wita.
Β
Jamaah An Nadzir di Sulsel didirikan oleh KH Syamsuri Majid pada tahun 1998. Awalnya bernama Majelis Jundullah, karena identik dengan Laskar Jundullah nama kelompok ini pun berubah menjadi An Nadzir. Mereka menamai An Nadzir dengan semangat 'pemberi peringatan' sesuai arti kelompok ini.
Β
Yang khas dari kelompok ini mereka membentuk perkampungan sendiri dan hidup dari sederhana dengan menanam padi di sekitar pemukiman mereka, yang berupa rumah pondok dari bambu. Selain itu waktu shalat mereka berbeda dengan pemeluk Islam lainnya.
Mereka melakukan Shalat Shubuh pada pukul 06.00 Wita, Dzuhur pada pukul 16.00 Wita, Ashar pukul 16.30 Wita, magrib pukul 19.00 Wita dan Isya pukul 04.00 Wita.
Pengikut jamaah An Nadzir di kampung Mawang berjumlah sekitar 800 orang. Kaum prianya dapat ditandai dengan rambut panjang yang diwarnai atau dibuat pirang. (mna/rdf)











































