Hal itu diungkapkan oleh KH Fuad Riyadi pengasuh Pondok Pesantren Roudhatul Fatikah, Gunung Sentana Desa Pleret Kecamatan Pleret Bantul yang menerima pengaduan dan keluh kesah siswa yang menjadi korban perilaku menyimpang sang kepala sekolah.
"Mereka pada hari Jumat 29 Agustus 2008 kemarin datang ke pondok. Siswa yang datang 5 orang yang juga saksi bersama beberapa orang guru. Semuanya cerita mengenai kasus pelecehan seksual. Mereka menuduh kepala sekolah melakukan pelecehan," kata Fuad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka datang ke saya karena takut dan sudah mentok tidak tahu harus mengadu ke mana. Guru-guru terutama guru BP juga takut dan tidak berani cerita," kata Fuad yang juga mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 2 Banguntapan.
Fuad mengatakan, dari pengakuan saksi-saksi semuanya mengaku digerayangi kemaluannya dan dipeloroti celana panjangnya. Aksi Susanto dilakukan di ruang kepala sekolah dengan cara siswa dipanggil masuk kemudian ruangan dikunci dari dalam. Dari sejumlah pengakuan dan saksi sedikitnya ada 20-an siswa dan alumni yang jadi korban.
"Ada yang hanya dipegang-pegang. Celananya disuruh lepas. Mereka takut dan ada yang bisa lari," katanya.
Dampak perbuatan itu lanjut Fuad, siswa yang jadi korban ataupun yang mengetahui perilaku itu semuanya ketakutan bila bertemu kepala sekolah atau lewat di dekat ruangan kepala sekolah. "Mereka sangat tertekan. Para pamong guru tidak banyak yang tahu kasus ini. Baru tahu setelah ada aksi," katanya.
Dia mengatakan tuntutan siswa yang demo adalah kepala sekolah harus dipecat dan tidak boleh mengajar di kelas lagi. Sebab kalau masih mengajar di kelas dikhawatirkan masih melakukan perbuatan serupa.
"Dia menjabat sebagai kepala sekolah belum lama sekitar 1 tahun. Sebelumnya di SMA Kretek," pungkas Fuad. (bgs/gah)











































