“Perluasan ini sangat perlu untuk mengembalikan fungsi hutan Tesso Nilo sebagai konservasi gajah Sumatra. Sekarang ini populasi gajah terus menyusut akibat habitatnya terganggu oleh perambahan hutan. Kalau sudah habitatnya dirusak, maka konflik pun terjadi,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, Darori dalam deklarasi perluasan di Kantor Gubernur Riau, Jl Sudirman, Pekanbaru, Kamis (28/8/2008).
Berdasarkan laporan WWF Indonesia dan BKSDA Riau tahun 2003, populasi gajah mencapai 400an ekor. Jumlah ini kemudian menyusut hingga menjadi 250an ekor pada tahun 2006. Bahkan kawasan TNTN yang merupakan kantong gajah terbesar di Riau, populasinya justru tinggal 90 ekor.
Kawasan TNTN pada tahun 2004 memiliki luas sekitar 38 ribu hektar. Dengan luas 100 ribu hektar, diharapkan dapat menjadi kawasan konservasi gajah yang masih tersisa di Riau.
“Perluasan ini akan membantu menyelamatkan populasi kelompok gajah yang masih di luar taman nasional. Di areal itu juga akan dibangun parit gajah untuk mengatasi konflik dengan manusia,” jelas Darori.
Selain menjadi habitat alami gajah Sumatra, Hutan TNTN juga sebagai hutan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Berdasarkan penelitian Centre fot Biodiversity Management –sebuah lembaga internasional yang telah melakukan survei di lebih 1800 plot hutan tropis di seluruh dunia - pada tahun 2001, ditemukan 218 spesies tumbuhan dalam petak ukur 200 meter persegi di Tesso Nilo. (cha/mok)











































