Hal itu dikatakan anggota DPR RI Priyo Budi Santoso kepada wartawan di sela-sela acara seminar Dies Natalis XV dan Temu Alumni Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Hotel Saphir, Jl Laksda Adisucipto, Yogyakarta, Kamis (28/8/2008).
"Secara psikologis, sangat berpeluang sebagai titik awal untuk mencairkan suasana kebatinan dua partai gajah ini. Saya harus akui itu," kata Priyo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dari keluarga besar Partai Golkar merasa tersanjung dengan ajakan Pak Taufiq Kiemas dari PDIP yang sangat terbuka, pagi-pagi hari sudah mengajak koalisi. Dan menurut hemat kami ajakan itu lebih baik dimulai sejak dini tapi dikonkretkan setelah pemilu legislatif nanti. Kalau sebelumnya akan susah," katanya.
Priyo menyayangkan ketidakhadiran Presiden SBY dalam acara Silatnas Golkar 25 Agustus lalu. Namun setelah mendapat penjelasan dari bila Presiden menerima tamu negara raja Swaziland, dia dapat memahami dan memakluminya.
"Andaikata SBY bisa hadir, suasana akan lain karena beliau mendapatkan giliran pidato pamungkas, paling terakhir," katanya.
(bgs/nrl)











































