Mortir pertama kali ditemukan Ngadimin, seorang pekerja bangunan di kedalaman delapan meter saat menggali pondasi salah satu proyek pembangunan Laboratorium Penelitian Flu Burung milik Dinas Peternakan Sumut di Jl. Gatot Subroto Medan, tepat di depan Markas Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan.
Ngadimin mengaku semula tidak mengetahui benda yang ditemukannya adalah sebuah mortir. Bahkan Ngadimin sempat membersihkan mortir dengan cara mencuci dan mengeruk karat yang menempel menggunakan potongan besi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan mortir dilaporkan ke Kodam I Bukit Barisan yang berada di depan lokasi penemuan. Pihak Kodam kemudian melakukan pengamatan untuk mengevakuasi mortir ke lokasi aman.
Namun Kapolsekta Medan Sunggal AKP Marsdianto yang baru tiba langsung mengangkat mortir tanpa koordinasi dan menggunakan alat bantu. Perbuatan ini sempat membuat warga dan pihak Kodim cemas, termasuk wartawan yang sedang meliput.
Wartawan elektronik salah satu televisi swasta di Medan Resi Erlangga mengaku sangat khawatir melihat tindakan Kapolsekta Medan Sunggal. "Kalau meledak, habis kawan-kawan yang meliput. Kita dua meter dari lokasi," kata Resi.
Kepala Peralatan Kodam I Bukit Barisan Kolonel Jhon Sihombing mengatakan, dari bentuk fisik setelah ditemukan, mortir tersebut masih aktif.
"Kalau proses pengamanannya tidak hati-hati, mortir bisa meledak. Dari bentuknya, mortir itu masih aktif," kata Sihombing.
Mortir sepanjang 50 cm dengan diameter 20 sentimeter ini kemudian dibawa pihak Poksekta Medan Sunggal.
(rul/djo)











































