Warga Tuntut Polisi Periksa Anggota DPRK Aceh Besar

Warga Tuntut Polisi Periksa Anggota DPRK Aceh Besar

- detikNews
Selasa, 26 Agu 2008 20:04 WIB
Jakarta - Warga Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), menuntut polisi segera memeriksa Anggota DPRK Aceh Besar berinisia l IE (35) sesuai pengaduan mereka ke Kepolisian Sektor Kejuruan Muda. Warga meminta polisi serius menanganinya karena ancaman politisi PAN tersebut membuat warga tidak tenang beraktivitas.

Warga kini giat menggelar jaga malam untuk mengantisipasi serbuan IE dan kelompoknya ke Desa Tenggulun. Warga trauma teror IE dan gerombolannya menjadi kenyataan setelah sebelumnya kelompok tersebut memukuli Ketua Majelis Duduk Setikar (MDSK) Lukman Hakim, lalu mengancam warga dengan parang dan sangkur yang disiapkan sejak awal.

"Kami minta polisi memihak kepada rakyat. Jangan setelah rakyat Tenggulun diteror orang dari luar Aceh Tamiang, polisi malah melindungi penerornya," ujar Abu Bakar (46), warga Tenggulun, yang dihubungi lewat telepon seluler dari Medan, Selasa (26/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Abu Bakar, laporannya tersebut diterima oleh Aiptu Ramli AB pada 19 Agustus lalu.

Abu Bakar mengatakan, IE melontarkan ancaman tersebut saat masuk mobil kijang kapsul bernomor polisi BK 1195 XE untuk kabur dari kepungan warga. Sebelumnya, sejumlah warga sempat dikejar-kejar kelompok IE yang mengacungkan parang. Sebagian warga yang melihat peristiwa tersebut kemudian melempari kelompok IE dengan batu, kayu, dan benda lain yang ada di dekat mereka untuk menyelamatkan diri.

Melihat IE lari ke dalam mobil, para pengawalnya yang semula mengejari warga kemudian berbalik dan masuk ke mobil. Sambil terus mengacungkan parang kepada warga, beberapa anggota IE mengancam.

"Awas, kami akan datang lagi bawa anggota satu batalyon!" ujar Abu Bakar menirukan ungkapan ancaman tersebut.

Warga sangat berharap kepada polisi secepatnya menangani kasus ini. Sampai sekarang, polisi belum memeriksa IE, yang juga seorang direktur perusahaan sarang walet itu.

"Datok Penghulu (kepala desa) Tenggulun Ahmad Siddik dan Camat Tenggulun Rafi'ie tak bisa diharapkan untuk membela warga. Mereka seperti tak peduli dengan teror mereka kepada kami,” kata Wasino.
(rul/asy)


Berita Terkait