"Kami tidak sempat membawa apa-apa untuk makan pun tidak ada persediaan" kata Rohana, diatas puing-puing rumahnya di Taman BMW, Jl RE Martadinata, Jakarta Utara, Senin (25/8/2008).
Eroh, begitu ia biasa disapa, dan sebagian warga lainnya mengaku sampai saat ini belum mendapat bantuan dalam bentuk apapun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di pinggir rel kereta api Papanggo, Eroh dan sejumlah warga yang kelaparan semalam akhirnya meminta bantuan dengan turun ke jalan raya. Anak-anak merekalah yang dikerahkan turun ke jalan. Mereka menengadahkan kardus bekas pada pengendara yang melintas.
"Mereka (pengguna mobil) banyak yang ngasih. Lumayanlah untuk mengisi perut," cetusnya.
Rohana yang menjadi buruh cuci dulunya tinggal di bekas gusuran Taman BMW. Kini, dia bingung akan tinggal kemana. Pasalnya sudah dua tahun ini Eroh, begitu dia biasa disapa, tidak mempunyai tempat tinggal lain selain di gubuk yang dulunya di bangun di atas tanah kosong.
Sepeninggal suaminya setahun lalu, Eroh berusaha sendirian menghidupi keluarganya. "Suami saya meninggal 1 tahun lalu saat saya mengandung 2 bulan," kisahnya.
Hingga kini Eroh masih tidak percaya akan penggusuran yang dialaminya. "Saya tidak mengerti ini tanah siapa. Tapi seharusnya ada pemberitahuan dulu sebelum eksekusi. Jangan mendadak seperti ini." ujarnya.
Saat digusur, Eroh mengaku sedang berada di rumah. Saat itu, dia hanya menyiapkan barang-barang seperlunya untuk dibawa.
Eroh mengaku akan menunggu kepastian dari pemerintah. "Jika belum ada kepastian apa-apa saya dan warga lainnya tetap akan tinggal di pinggiran rel ini." kata dia.
Menurutnya hal ini terpaksa dilakukan karena sudah tidak tahu lagi akan tinggal dimana. "Jika tidak ada ganti rugi dari pemerintah saya mau tetep di sini, tidur di terpal sampai dapat ganti rugi" ujar Eroh nelangsa. (Ari/fiq)











































