Hal tersebut diungkapkan Akbar saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui sambungan telepon, Senin (25/8/2008).
"Selama ini Partai Golkar tidak pernah mengenal istilah silatnas. Paling tidak, selama saya memimpin partai tersebut. Jadi kalau ditanya kepentingan dan tujuan penyelenggaraan Silatnas Dewan Penasihat Partai Golkar saya tidak tahu," ujar Akbar.
Menurut Akbar, selama ini Partai Golkar hanya mengenal berbagai forum seperti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) atau Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas). Forum tersebut digelar untuk membahas berbagai persoalan partai.
Selain itu, sambung Akbar, saat dia menjadi ketua umum, tugas dewan penasihat hanya memberikan nasihat, baik diminta maupun tidak. Dewan Penasihat tidak pernah terlibat dalam keputusan yang bersifat operasional karena hal itu merupakan wewenang dan tanggung jawab DPP.
"Kalau peraturan organisasi Partai Golkar saat ini atau sejak dipimpin Jusuf Kalla, saya tidak tahu," ungkap Akbar.
Namun demikian Akbar meyakini, selaku forum yang digagas oleh sebuah parpol, Silatnas Dewan Penasihat Partai Golkar pasti memiliki tujuan politis. Dan yang mengetahui tujuan politis tersebut adalah para pengurus Partai Golkar saat ini.
"Silakan tanya mereka (soal tujuan dan kepentingan Silatnas). Saya tidak tahu karena sudah tidak memiliki hubungan struktural lagi," tukas Akbar.
(djo/iy)











































