Korban Lapindo Kritik Aa Gym dan Arifin Ilham

Korban Lapindo Kritik Aa Gym dan Arifin Ilham

- detikNews
Senin, 25 Agu 2008 14:00 WIB
Korban Lapindo Kritik Aa Gym dan Arifin Ilham
Jakarta - Korban lumpur Lapindo mengirim 'surat cinta' untuk dai kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dan Arifin Ilham yang mengisi acara 'Indonesia Berzikir'. Mereka menyesalkan Aa Gym dan Arifin yang dinilai melupakan korban Lapindo.

'Surat cinta' yang meluapkan kekecewaan itu dituangkan para korban Lapindo melalui blog resmi mereka, berantaslapindo.wordpress.com yang diposting Senin (25/8/2008).

Para korban ini merujuk pada keikutsertaan kedua dai kondang itu pada acara 'Indonesia Berzikir' yang digelar Minggu 24 Agustus 2008 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara yang digelar Majelis Az-Zikra bekerjasama dengan forum Al Bakrie pimpinan anak Menko Kesra Aburizal Bakrie, Anindya Bakrie.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu, Aa Gym dan Arifin banyak menyentil berbagai persoalan bangsa ini, mulai dari soal wakil rakyat, sampai soal penegakan hukum. Arifin menyentil koruptor yang tidak dihukum berat dan penangkapan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang dinilai tidak adil. Sedangkan Aa Gym lebih banyak berbicara soal korupsi.

Namun, soal warga yang kehilangan harta benda dan kehidupan sosial mereka yang berantakan, ganti rugi yang hingga kini belum teratasi, hingga ancaman hilangnya sejumlah desa dari peta, sama sekali tidak disebut-sebut oleh kedua dai itu.

"Mengapa bapak-bapak menjadi lupa terhadap korban Lapindo?" tulis mereka dalam blog itu.

"Pak Ustadz Arifin Ilham dan Aa Gym. Sejenak, hanya sejenak, lihatlah penderitaan korban Lapindo. Mereka tentu lebih menderita dibandingkan Habib Rizieq ataupun Munarman," sesal mereka.

"Apa karena acara ini disponsori oleh Bakrie Group sehingga kalian tidak dibiarkan berbicara hal ini?" bunyi kalimat terakhir dalam posting blog itu.

Menurut salah seorang pengacara korban Lapindo, Taufik Basari, blog itu merupakan bagian dari gerakan warga Porong yang terus memperjuangkan hak mereka. Blog itu dibuat untuk mengatasi monopoli informasi oleh pihak Lapindo.

"Selain blog, korban juga membuat radio komunitas di Porong, dan berbagai terbitan," kata pria yang menjadi kuasa hukum warga dalam gugatan kasus Lapindo di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini.

Taufik menilai para dai yang tidak peduli dengan korban Lapindo semakin membuat korban terpinggirkan.

"Korban melihat ketika ada suatu acara besar, lalu ada satu refleksi terhadap kehidupan bangsa dengan penuh isak tangis, tetapi tidak ada satupun yang mempersoalkan penderitaan korban. Padahal jelas-jelas ini penderitaan luar biasa," ujarnya.
(fiq/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads