Begitu bus yang membawa kami, peserta I-ring 808 Partner Gathering, meninggalkan Bandara Internasional Than Son Nat dan menuju ke pusat kota Ho Chi Minh, Kamis (21/8/2008), mata disambut dengan banyaknya sepeda motor berlalu lalang di jalanan.
Sepeda motor made in Jepang dan China sangat mendominasi jalanan, tak beda dengan gejala serupa di Jakarta. Serasa bagai 'kota sepeda motor'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini banyak sekali motor. Kalau Anda jalan-jalan di Ho Chi Minh, hati-hati ya. Kalau tidak, bisa ditabrak motor. Apalagi haluannya berbeda dengan di Indonesia," ujar pemandu kami dari Indonesia, Henry Eka Putra.
Perkataan Henry memang benar. Ketika detikcom berjalan-jalan di Distrik 1 di kota terbesar di Vietnam ini, beberapa sepeda motor dengan slonong boy melaju ke arah yang berlawanan, usai berbelok di tikungan.
Kalau di Indonesia haluan kendaraan cenderung ke kiri, di Vietnam sebaliknya. Karena kendaraan roda 4 di sini letak setirnya di kiri.
Jadi kalau menyeberang jalan, harus membalik kebiasaan. Yang biasanya menoleh ke kanan dulu lantas ke kiri, ini sebaliknya. Ditambah separator jalan yang ada kebanyakan berupa garis marka, bukan separator permanen, memungkinkan kendaraan nyosor kanan kiri.
Selain sebagai kendaraan pribadi, sepeda motor juga dijadikan taksi alias ojek, namanya xe om. Ada juga taksi mobil, dari multi purpose vehicle (MPV), sedan hingga city car.
Tersedia pula angkutan kota juga yang dimodifikasi dari pickup, dan bus. Kendaraan seperti becak ada juga, namanya cyclo.
"Becak di Indonesia lebar dan muat untuk 2 orang. Kalau di sini cuma buat 1 orang, jalannya cepat lagi," ujar Nguyen Van Coi, pemandu native kami yang pernah ke Indonesia ini.
Kendati dipadati sepeda motor dan kendaraan lain, kemacetan tidak separah seperti yang ada di Jakarta.
Jika pemandangan di 'darat' didominasi sepeda motor, mendongak sedikit ke atas ada pemandangan lain yang mendominasi.
Olala, banyak kabel listrik silang sengkarut seperti benang ruwet. Bahkan di beberapa perempatan, kabel-kabel tadi saling bertemu memenuhi 'angkasa', seperti jebakan nyamuk.
"Kami menyebutnya spider net (sarang laba-laba). Ya memang kacau sekali," jawab Coi ketika ditanya tentang 'benang ruwet' itu.
Menurut Michael, pangilan akrab Coi, pemerintah Vietnam mempunyai rencana menanam kabel-kabel itu ke dalam tanah.
"Mungkin beberapa belas tahun lagi. Karena biayanya sangat mahal," tutur pria berambut cepak ini.
Satu lagi masalah khas kota urban metropolitan yang sedang berkembang ini, banjir. Seperti yang terjadi pada Sabtu (23/8/2008) malam, kota berpenduduk 7 juta orang ini sedang dipenuhi warganya yang bermalam panjang.
Saat berjalan kaki dari lapangan depan People Comittee Hall ke Jalan Le Loi, bress! Hujan deras mengguyur sekitar 45 menit.
Hasilnya, beberapa perempatan dan ruas jalan di Jalan Le Loi pun terendam air. Tingginya bisa mencapai 3 centimeter di atas mata kaki. Kalau tidak mengetahui medan ketinggian jalan, nanti bisa-bisa kecebur. Byuur!
(nwk/nrl)











































