Wisata Perang di Ho Chi Minh

Laporan dari Vietnam

Wisata Perang di Ho Chi Minh

- detikNews
Senin, 25 Agu 2008 09:10 WIB
Wisata Perang di Ho Chi Minh
Ho Chi Minh - Perang mungkin menjadi berkah tersembunyi bagi Vietnam. Setelah didera perang berkepanjangan selama hampir 1 abad dan 1 dasawarsa, kini jejak imperialisme itu menjadi jualan Vietnam untuk mengundang turis.

Vietnam dijajah Perancis sejak abad 19, tahun 1858 hingga tahun 1954. Tentara Perancis dipimpin Rigault de Genoully, atas perintah Napoleon III, menyerang Pelabuhan Da Nang. Penyerangan itu gagal kendati berhasil menghancurkan kota.

Dari sana, penyerangan berlanjut ke Gia Dinh alias Kota Saigon yang sekarang bernama Ho Chi Minh. Dari sana, Perancis berhasil menguasai 6 provinsi di daerah Sungai Mekong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga akhirnya, pada 30 Agustus 1945 revolusi dilancarkan Ho Chi Minh, bapak komunis Vietnam yang dipanggil Bac Ho (Paman Ho), dan Viet Minh. Revolusi itu berhasil membuat raja Vietnam terakhir, Bao Dai, melepas tahta.

Perlawanan demi perlawanan dilancarkan hingga akhirnya Perjanjian Jenewa ditandatangani Juli 1954. Perancis sepakat hengkang dari Vietnam.

Penjajahan 1 abad itu menyisakan bekas. Bangunan bergaya Perancis tampak di beberapa titik Kota Ho Chi Minh. Misalnya di Distrik 1.

Di Jalan Hai Ba Trung, berdiri Katedral Notre Dame. Katedral seluas 35 x 93 meter persegi itu, mempunyai menara lonceng kembar yang tingginya mencapai 58 meter.

Batu bata asal Marseilles yang menyusun katedral sejak tahun 1877 masih menunjukkann warna aslinya, merah. Di depannya, patung Perawan Maria berdiri dengan anggun. Menjulang setinggi 4,2 meter, patung berbahan marmer Italia itu berbobot 8,5 ton.

Di sisi baratnya, terdapat Kantor Pos pusat dengan gaya Perancis pula. Dibangun tahun 1886, bagian depannya berukir nama-nama ilmuwan Perancis seperti Ampere, Voltage, Focault, dan lainnya.

Tak hanya gedung, nama jalan di dekat Notre Dame pun ada yang berbau Perancis. Ada Jalan Pasteur, seperti di Kota Bandung, dan Jalan Alexandre de Rhodes.

Tengok juga Reunification Hall, di Jalan Nam Ky Khoi Nghia. Berdiri di atas lahan seluas 15 hektar, bangunan yang didesain arsitek Perancis yang juga merancang balai kota Hongkong, Hermite, semula adalah rumah Gubernur Jenderal Perancis.

Sayang, bangunan itu dibom saat Vietnam perang dengan Amerika Serikat (AS) untuk membumihanguskan paham komunis pada 1962. Namun, tahun 1972-1976 bangunan itu dipugar dengan arsitek Vietnam, Ngo Viet Thu.

"Bangunan yang asli jauh lebih indah dibanding bangunan yang baru," ujar pemandu native I-ring 808 Partner Gathering, Le Chau, saat rombongan berkunjung ke sana, Kamis (21/8/2008).

Bangunan itu, saat perang Vietnam-AS, ditempati keluarga presiden Vietnam. Rencana dan strategi perang pun dibahas di Reunification Hall ini.

Semula, bangunan ini diberi nama Independence Hall, saat Kota Saigon atau Ho Chi Minh bebas dari cengkeraman AS, 30 April 1975.

Namun, saat Vietnam Utara dan Vietnam Selatan bersatu pada tahun 1976, nama Reunification Hall disematkan.

"Perancis menjajah Vietnam untuk diperas sumber daya alamnya. AS menjajah untuk tujuan politik. Agar paham komunis tidak menyebar, AS menyerang Vietnam karena bisa mengincar China dan Rusia di utara, melalui Laos dan Kamboja," ujar Chau.

Sejak pusat pemerintahan pindah ke Hanoi, utara Vietnam, bangunan ini digunakan untuk menginap para tamu negara. (nwk/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads