Ini Dia Kronologi Penari NTT Terlunta-lunta di Jakarta

Ini Dia Kronologi Penari NTT Terlunta-lunta di Jakarta

- detikNews
Jumat, 22 Agu 2008 17:52 WIB
Jakarta - Maksud hati ingin membuat daerah bangga. Namun 30 penari asal NTT ini malah terlunta-lunta usai unjuk kebolehan di depan Presiden SBY.

Usai menggelar pementasan Tari Baleo di Istana dalam rangka HUT ke-63 RI, kelompok penari berusia muda itu tidak bisa kembali ke daerahnya. Uang saku dan uang perjalanan dibawa kabur pemimpin rombongan yang juga Kepala Dinas Depdiknas Lembatta, Martin Didi Lejak.

Dengan bermodal semangat dan finansial pas-pasan dari pemda setempat, rombongan pun berangkat. 30 penari Baleo diboyong ke Graha Wisata Remaja TMII, tempat mereka menginap selama sepuluh hari selama di Jakarta.

"Mereka sewa penginapan untuk penari dan rombongan. Total uang sewa Rp 11 juta. Pembayaran dilunasi begitu mereka datang. Tiap penari dijanjikan uang saku Rp 1 Juta," papar salah seorang sesepuh asal NTT Dominik Rully.

Namun, sehari setelah mereka usai tampil menawan didepan istana, rombongan tersebut diusir oleh pihak penginapan. Sebab, ketua rombongan yang juga Kepala Dinas Depdiknas Lembatta, Martin Didi Lejak menarik uang penginapan yang telah disetor. Kemudian, bersama Madjid Lamahoda keduanya kabur dan menghilang sampai sekarang.

"Rombongan kebingungan. Lalu saya tampung di dekat rumah saya. Untung Pak RTnya baik," imbuh Rully.

Setelah nasib tragis mereka dilansir sejumlah media, istanapun mendengar. Dari bupati Lembatta, Camat Kramatjati hingga Lurah dan instansi terkait langsung kena tegur. Terlebih kondisi anak-anak SMA tersebut sangat memprihatinkan. Sampai-sampai Antonius jatuh sakit kurang makan dan dirujuk ke RS Pasar Rebo.

"Mimpinya jalan-jalan lihat monas eh cuma lihat rumah kontrakan sempit begini," kata Anton sedih.

Para penari itu sebelumnya menari Tari Baleo, asal NTT. Tarian itu telah mendarah daging sejak tahun 1600, jauh sebelum Indonesia Merdeka. Tari tersebut bercerita bagaimana masyarakat NTT yang berkarakter kepulauan begitu jawara dalam berlayar. Sampai-sampai,
ikan paus dijadikan bahan perlombaan dalam berlayar mencari ikan.

"Ini tradisi kami. Diturunkan turun-temurun dan akan kami hindari dari kemusnahan," imbuh Antonius salah satu penari.

Tak heran, saat gelaran budaya tahunan yakni pawai budaya nusantara digelar, Tari Baleo kembali didapuk untuk ditunjukkan. "Nggak ada persiapan khusus sih, kan kami biasa tampil didepan umum. Kami
senang bisa tampil didepan presiden," ucap salah satu penari lainnya, Magda. (Ari/ken)


Berita Terkait