Para mahasiswa ini berangkat dari kampusnya di Jl Kaliurang KM 14 Sleman dengan menggunakan 4 buah bus kampus menuju Taman Parkir Abu Bakar Ali di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari tempat tersebut, para mahasiswa ini berjalan kaki menuju Gedung DPRD DIY, Jl Malioboro, Selasa (19/8/2008).
Dalam aksinya, para mahasiswa baru ini mengenakan jas alamater, baju putih di padu celana panjang atau rok hitam. Tidak ketinggalan dasi dan peci hitam. Mereka juga mengusung bendera merah putih, bendera masing-masing fakultas dan bendera Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampainya di halaman DPRD DIY, para mahasiswa baru ini diminta mengkritisi berbagai persoalan, mulai dari kebijakan pemerintah, kasus Lapindo, korupsi, kemiskinan, kenaikan harga sembako dan BBM, kesehatan murah bagi rakyat hingga anggaran pendidikan 20 persen.
Satu persatu perwakilan mahasiswa baru itu melakukan orasi. Salah seorang mahasiswa, Andre Zulian, dalam orasinya mengatakan 63 tahun merdeka Indonesia belum menjadi negara berdaulat. Indonesia tetap menjadi negara dan bangsa terjajah dari bangsa asing. Berbagai sumber kekayaan alam dieksplotasi tapi rakyat tidak menikmatinya.
"Pemerintah harus berani melakukan nasionalisasi aset-aset asing serta menghentikan intervensi asing di Indonesia, sehingga kita jadi negara yang berdaulat dan mandiri," teriak Andre disambut yel-yel 'revolusi,' oleh peserta aksi.
Para mahasiswa baru ini kemudian mendesak ditemui oleh anggota dewan. Tuntutan itu akhirnya dipenuhi. Dua anggota dewan dari FPKS dan FPDI, yakni Arif Rahman Hakim dan Esti Wijayati, datang menemui para demonstran.
Aksi para mahasiswa baru UII Yogya ini dikawal satu peleton aparat Poltabes Yogyakarta. Kendaraan medis dari Fakultas Kedokteran UII pun juga disiagakan di sekitar gedung DPRD DIY. (bgs/djo)











































