Pujian & Harapan Dunia Pasca Musharraf Mundur

Pujian & Harapan Dunia Pasca Musharraf Mundur

- detikNews
Selasa, 19 Agu 2008 09:18 WIB
Pujian & Harapan Dunia Pasca Musharraf Mundur
London - Pasca mundurnya Presiden Pervez Musharraf, beberapa negara memuji kemajuan Pakistan ketika dipimpin Musharraf. Ada pula yang mengatakan Pakistan lebih baik setelah mantan jenderal itu mundur.

"Presiden Bush akan mempertimbangkan kerjasama dengan Pemerintah Pakistan dalam tantangan ekonomi, politik dan keamanan yang mereka hadapi," ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Gordon Johndroe seperti dilansir dari AFP, Selasa (19/8/2008).

Bush, imbuhnya, juga sangat menaruh hormat pada Musharraf, atas upayanya dan komitmennya memerangi Al Qaeda dan kelompok ekstremis, dalam suasana transisi demokratis di Pakistan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Sekretaris Kementerian Luar Negeri Inggris David Miliband memuji kemajuan negara bekas koloninya di bawah kepemimpinan Musharraf. Yakni, dalam hal ekonomi, pemberantasan terorisme, memberantas korupsi dan mempromosikan dialog dengan India.

"Tapi perubahan tergantung dengan legitimasi, dan mengapa Inggris menekankan kekuatan institusi di Pakistan, daripada kekuatan individu, dan kenapa kita percaya demokrasi itu kunci yang kuat," ujar Miliband.

Sedangkan Rusia berharap mundurnya Musharraf tidak menyebabkan instabilitas di negara itu. "Rusia berharap mundurnya Presiden Pervez Musharraf tidak akan meninggalkan konsekuensi negatif stabilitas internal di negara-negara Asia,"Β  ujar Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sedangkan Presiden Afghanistan Hamid Karzai yang mempunyai hubungan tegang dengan Musharraf, berharap mundurnya momentum ini bisa memperkuat peradaban di Pakistan.

"Kita tentukan untuk melanjutkan kerja sama dalam pemberantasan terorisme dan ekstremisme yang dihadapi kedua negara," ujar jubir Karzai, Homayun Hamidzada.

Sedangkan India, musuh Pakistan, menolak berkomentar atas keputusan Musharraf. Kementerian Luar Negeri India di New Delhi menganggap itu masalah internal negara tetangganya.

Sementara Human Right Watch mengimbau Pemerintah Pakistan menulis ulang segala konstitusi setelah Musharraf mundur.

"Musharraf tidak tahu malu dan tidak menghormati hak asasi dan hukum selama 1 dekade. Dengan tidak melaksanakan peraturan Musharraf yang tak tahu aturan, dan menahan dia untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya, akan menambah keamanan di negara itu," tandas peneliti Asia Selatan Human Right Watch Ali Dayan Hasan. (nwk/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads