Jakarta Harus Agresif ke Belanda

Laporan dari Den Haag

Jakarta Harus Agresif ke Belanda

- detikNews
Minggu, 17 Agu 2008 14:05 WIB
Den Haag - Sampai kapan Indonesia akan mengandalkan ikatan sejarah dan kedekatan emosional dengan Belanda? Generasi tua sudah hampir punah, sementara generasi muda semakin renggang.

Tanda-tanda perubahan zaman itu akan mempengaruhi terutama terhadap sektor pariwisata yang seharusnya diantisipasi Jakarta dan dikelola dengan baik.

Demikian benang merah perbincangan Cheppy T. Wartono dan M. Joko Santoso dengan detikcom di Ruang Nusantara KBRI Den Haag, Jumat (15/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua anggota DPR RI dari Komisi X itu singgah di Belanda untuk menyaksikan Festival Kebudayaan, sebuah pesta rakyat dalam rangka HUT RI ke-63 yang mulai tahun ini oleh KBRI Den Haag dikembangkan menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia.

Dikatakan bahwa pasar pariwisata Belanda kini mulai mengalir ke Malaysia berkat kegigihan negeri jiran itu berpromosi secara agresif, terutama melalui iklan televisi.

Bahkan Malaysia secara pelan namun pasti mulai mengambil alih Pasar Tong-Tong di Den Haag, yang rootnya sesungguhnya dari Indonesia. Pada pasar Tong-Tong 2008 yang lalu Malaysia hadir secara menyolok dengan Malaysia Airlines (MAS) di front depan menebar sponsorship.

"Kita tidak bisa terus-terusan hanya mengandalkan faktor sejarah dan kedekatan emosional. Dalam hal ini Depbudpar harus punya perencanaan yang baik untuk melancarkan marketing yang agresif," ujar Cheppy.

Ditambahkan, bahwa anggaran Depbudpar harus dikerahkan secara tepat guna dan tepat sasaran dengan target pasar. "Kantor-kantor perwakilan RI jangan dibiarkan merana dengan promosi megap-megap karena keterbatasan dana," tandasnya.

Sementara Joko menimpali bahwa pihaknya akan menyampaikan temuan-temuan di lapangan untuk menjadi perhatian Menbudpar. Upaya kantor perwakilan berpromosi harus diback-up Jakarta.

"Khusus untuk pasar pariwisata Belanda memang tidak bisa dibiarkan, harus dipelihara dengan baik. Kalau tidak, ya kita susah bersaing," demikian Joko. (es/es)


Berita Terkait