Tahun 2007 lalu, sastrawan Putu Wijaya pernah mikir-mikir untuk menerima penghargaan itu, setelah menerima banyak pesan singkat dari rekannya untuk tidak menerima.
Kali ini, sastrawan yang menerima adalah Sutardji Calzoum Bachri. Pria yang dijuluki sebagai 'presiden penyair' ini beralasan bersedia menerima penghargaan itu karena seniman, tidak punya wewenang untuk menolak apresiasi apa pun dan dari siapa pun, termasuk memilih siapa orang yang diperbolehkan memberikan apresiasi pada karya seninya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dikembalikan kepada sastrawannya sendiri apakah akan menerima penghargaan yang notabene bermasalah dari segi bisnis. Achmad Bakrie dan Lapindo hanya dipersatukan Aburizal Bakrie," kata Ketua Komunitas Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Nur Zain Hae, Kamis (14/8/2008).
Nurzain mengatakan sikap Romo Magnis yang menolak penghargaan Achmad Bakrie karena alasannya sendiri patut dihargai.
"Harusnya memang ada juga sikap seperti itu (Romo Magnis yang menolak PAB), yang memang berpihak pada yang lemah. Hal ini juga menjadi dilema," kata dia.
Namun, sastrawan seharusnya bisa tetap kritis saat menerima penghargaan yang lembaganya masih ada hubungan dengan lembaga yang bermasalah.
"Menerima dengan memberi catatan kritis pada Bakrie misalnya. Kalau menerima dengan senang hati nggak apa-apa juga," ujar dia.
Selebihnya, Nurzain menilai semakin banyak penghargaan dalam bidang sastra semakin baik. "Artinya, prestasi kepengarangan seseorang dihargai," tutur dia. (nwk/iy)











































