"Tolonglah bantu saya. Kalau dibantu saya akan bantu rakyat kecil," kata Ilyas menirukan suara Foke ketika kampanye di Lapangan Rawajati menjelang pemilihan Gubernur DKI 2007.
Betapa pedih hati Ilyas saat tahu bahwa orang yang mengeluarkan janji itu justru adalah orang yang membuat kebijakan untuk mengusirnya dari rumah yang telah ditanggalinya selama 23 tahun. Ilyas diberi waktu hingga akhir 2008 untuk menempati rumah kecilnya di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah itu, Ilyas harus pergi, entah kemana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesan serupa dia kumandangkan untuk SBY. Menurut Ilyas, dulu menjelang Pemilu Presiden 2004 SBY pernah menemuinya. SBY meminta Ilyas membantunya berkampanye dengan memanfaatkan jaringannya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di 14 provinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Waktu itu SBY berjanji akan memperhatikan nasib para pejuang jika dia menjadi presiden.
"Dia mengatakan akan memperhatikan nasib para pejuang," kata Ilyas yang merupakan pengibar pertama bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 lalu.
Namun betapa kecewanya Ilyas ketika janji yang telah dikeluarkan SBY tidak ditepati. Dia bersama teman-teman seperjuangannya tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Satu-satunya perhatian nyata barangkali adalah jatah uang pensiunan sebesar Rp 1,5 juta yang rutin diterimanya tiap bulan. Selain itu, nihil.
"Pejabat pemerintah tidak perhatian sama sekali kepada kami para pejuang," keluh Ilyas.
Ketika ditanya mengapa tidak mengajukan permohonan ke pemerintah, Ilyas hanya menjawab, "Pemerintah otaknya otak batu. Gimana mau ngajukan? Percuma saja." (sho/asy)











































