Lelaki yang lahir pada 22 Maret 1920 ini menjelaskan, bapaknya bernama Pudjo Kusumo dan ibunya, Sujinah. Pudjo adalah wedana yang berpindah-pindah dan terakhir berada di Salatiga.
"Saudara ada tiga orang. Semuanya sudah meninggal," ungkapnya saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (13/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya apakah ingat dengan teman masa kecil, Andaryoko menjawab tidak. Pada teman sesama PETA saja, terkadang dia lupa.
"Itu kan sudah lama sekali. Saya lupa," kata lelaki yang mengenakan kemeja warna hijau dengan lencana garuda di dada sebelah kiri ini.
Di tengah wawancara, sebuah mobil warna perak terlihat parkir di samping rumah. Andaryoko menyambutnya. Ternyata sang penumpang adalah keluarga dari Blora.
"Saya adiknya (Andaryoko). Tapi adik sepupu," kata perempuan tak merinci jalur kekerabatannya, karena Andaryoko terlanjur bercerita lagi tentang sejarah dan hidupnya. (try/djo)











































