"(Golkar) nggak usah merangkul terlalu banyak. Pengalaman SBY-JK merangkul terlalu banyak justru menimbulkan tarik-menarik yang besar," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari saat dihubungi detikcom, Selasa (13/8/2008), pukul 10.45 WIB.
Karena pesertanya banyak, lanjut Qodari, jatah masing-masing hanya sedikit sehingga kurang solid. Jika ada yang mau keluar dari koalisi akan dibiarkan saja karena toh suaranya kecil.
Idealnya, menurut Qodari, koalisi yang dibangun cukup mencakup 50 persen plus 1 perolehan suara. "Tidak perlu 90 persen," kata penyandang gelar master dari University of Essex, Inggris, itu.
Karena itu, lanjut Qodari, sebaiknya Golkar memilih salah satu saja. PDIP atau partai Islam.
"Jangan dua-duanya," sarannya.
Ada konsekuensi yang harus siap diadapi Golkar ketika menentukan pilihan koalisinya. Jika berkoalisi dengan partai-partai Islam, keuntungan bagi Golkar adalah dia akan menjadi senior partner. Selain itu, koalisinya akan lebih plural karena Golkar berhasil menggabungkan partai nasionalis dengan partai relijius.
"Kelemahannya adalah bahwa partai Islam tidak tunggal. Golkar sedikit banyak akan kesulitan menata koalisinya," terang Qodari.
Adapun jika Golkar membangun koalisi dengan PDIP, keuntungannya adalah koalisi akan solid dan stabil karena PDIP adalah partai tunggal yang besar. "Kerugiannya adalah Golkar akan menjadi junior partner. Golkar ini kan mantan partai penguasa, jadi egonya besar," pungkas Qodari. (sho/gah)











































