Soal Naskah Proklamasi:
Supriyadi mengatakan konsep naskah proklamasi yang baru berupa coretan tangan sempat diremas-remas tangan oleh Sayuti Melik. Setelah ditik dan dianggap tak berguna lagi, Sayuti membuangnya ke tempat sampah. Namun Bung Karno yang ingat akan konsep itu menanyakan kembali sehingga naskah dipungut dan disterika ulang hingga akhirnya
disimpan Bung Karno
vs
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seputar Teknis Pelaksanaan Proklamasi
Supriyadi menyatakan bendera diambil bahannya dari gordyn dan tiang penegaknya diambil dari bambu jemuran. Adapun alat mikrofon untuk memperkeras pembacaan proklamasi dicomot dari radio milik Bung Karno.
vs
Brigjen (Purn) Lukas Kastaryo dalam kesaksiannya yang ditulis Majalah Intisari edisi Agustus 1991 mengatakan dialah yang mengusahakan bendera Sang Saka Merah Putih. Ia berikhtiar mencari kain merah dan putih dan menemukannya dari tenda yang tengah dipasang sebuah warung soto. Kain itu dibeli dengan harga Rp 500,- dan langsung diserahkan pada Ny Fatmawati.
Mengenai asal muasal mikrofon, ada juga cerita versi lainnya. Orang yang mengupayakan mikrofon adalah Mr Wilopo. Tanggal 17 Agustus 1945, menyadari belum adanya alat pengeras suara untuk dipakai pada Proklamasi pukul 10.00 nanti, Mr Wilopo berinisiatif pergi ke sebuah toko radio di Gang Tengah, sekitar Senen. Di sana ia menjumpai Gunawan si pemilik toko dan minta bantuannya untuk meminjamkan mikrofon. Bantuan disetujui sehingga sebelum pukul 08.00, mike sudah terpasang.
Soal Dialah Pengibar Bendera Sang Saka
Supriyadi mengaku dialah sosok yang bercelana pendek pada satu-satunya foto pengibaran Sang Saka Merah Putih sejurus setelah proklamasi dibacakan. Jika melihat pada foto tersebut, nampaklah bahwa satu-satunya sosok yang bercelana pendek adalah orang yang ikut serta mengibarkan bendera Merah Putih.
vs
Walau ada fotonya, soal siapa pengibar bendera Merah Putih itu ternyata tak ada yang persis ingat. Sejarah resmi menyebutnya sebagai Latief Hendraningrat (yang mengerek), Suhud dan SK Trimurti. Tapi belakangan SK Trimurti sendiri mengakui ia tak ikut menaikkan bendera. Ketika itu, saat ditunjuk Bung Karno dengan alasan mewakili kaum perempuan, Trimurti menolaknya. Trimurti berdalih untuk menaikkan bendera lebih tepat seorang prajurit.Soal ini masih belum putus, lebih mutakhir lagi, ada sosok Ilyas Karim, seorang purnawiran letkol dari Siliwangi yang mengklaim dialah sosok bercelana pendek yang ikut mengerek Sang Saka. Pasangannya pun bukan Latief tapi Shudanco Singgih.
(tbs/nrl)











































