Latar belakang para tokoh yang dinamakan friends of Indonesia itu juga beraneka ragam. Ada akademisi, jurnalis, pengusaha, mantan pejabat dan aktivis.
"Kita berharap dengan mengundang datang ke Indonesia, mereka dapat merasakan dan melihat sendiri perkembangan, kemajuan dan tantangan yang kita hadapi. Sekembali dari kunjungan ini mereka dapat menjadi 'duta besar' dan jembatan antara Indonesia dan negaranya," ujar Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dino menjelaskan diundangnya 32 tokoh itu merupakan bagian dari soft power yang beberapa tahun belakangan dikembangkan Pemerintah RI. Targetnya dari langkah ini adalah menjalin hubungan dan membangun jaringan yang lebih berkualitas dengan komunitas internasional.
"Presedential friends of Indonesia programme ini merupakan usaha pemerintah mengedepankan soft power dalam berhubungan dengan negara lain dan mengembangkan networking di negara-negara sahabat," jelasnya.
Para tokoh itu antara lain berasal dari Afsel, AS, Australia, Azerbaijan, Belanda, Inggris, Jepang, Rusia, dan UEA. Pemilihan para opinion maker yang tidak seluruhnya sudah mengenal Indonesia itu dilakukan Kedubes RI di negara-negara bersangkutan.
"Kita ingin mereka masuk program itu untuk menjaga hubungan batinnya, dan orang yang sama sekali tidak kenal Indonesia perlu kita perkenalkan pada Indonesia," sambung Dino.
(lh/nrl)











































