Saat tiba di Semarang Juli 1945, oleh Wakil Residen Semarang Wongsonegoro, Supriyadi diminta mengganti nama agar tidak diketahui tentara Jepang. Demi keselamatan bersama, ia setuju.
"Awalnya, saya berpikir nama Andaryono. Tapi nama Yono sudah terlalu banyak. Lalu saya ganti dengan Andaryoko," kata Andaryoko ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama baru tidak menghilangkan secara total sosok Supriyadi. Pejuang PETA itu pernah tertangkap basah oleh orang lain.
Dalam 'Buku Catatan Kisah Perjuangan Perjuangan Tentara Pelajar Solo: Merdeka atau Mati!' terbitan Al-Qalam Jakarta 1983 disebutkan, pada 30 Desember 1948, dua tentara pelajar dinasihati seseorang. Mereka menduga orang itu adalah Supriyadi.
"Ya. Saya bertemu mereka. Tapi saya lupa nama mereka," terang Andaryoko membenarkan kisah di dalam buku itu.
Pun halnya saat ditanya soal kejelasan Supriyadi berada di Bayah, Banten sebagaimana disebutkan dalam Buku Citra Perjuangan dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan yang terbit pada tahun 1987.
"Saya memang pernah ke sana (Bayah, Banten). Saya bertemu dengan Kepala Desa bernama Haji Mukandar. Oleh dia saya dikabarkan telah mati," ungkap dia.
Identitas aslinya tetap terjaga hingga usianya menginjak 89 tahun. Akhir-akhir ini saja, saat situasi dirasa memadai, ia membuka identitas aslinya, Supriyadi.
Empat anak Andaryoko juga tidak tahu identitas aslinya. Bahkan istrinya, Fatma, tidak tahu mengenai hal ini hingga ajal menjemputnya 2003 silam.
"Saya tahu ya saat bapak diwawancarai penulis buku dan Anda ini," kata putra kedua Andaryoko, Andarwanto yang tidak terlalu banyak bicara saat menemani wawancara. (try/asy)











































